Intoleransi di Yogyakarta Berlindung di Balik Kearifan Lokal

    Patricia Vicka - 25 November 2019 17:53 WIB
    Intoleransi di Yogyakarta Berlindung di Balik Kearifan Lokal
    Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwana X. (Foto: Medcom.id/Vicka)
    Yogyakarta: Daerah Istimewa Yogyakarta masuk dalam enam besar daerah dengan kasus intoleransi terbanyak dalam lima tahun terakhir versi Setara Institute. Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwana X menyebut sikap intoleransi kerap sembunyi di balik kearifan lokal. 

    Ia mencontohkan intoleransi dilakukan dengan menekan kelompok masyarakat lain agar tidak menggelar acara tertentu yang dinilai bertentangan dengan kearifan budaya lokal. "Sekarang motifnya (intoleran) lebih ke arah kearifan lokal," katanya, Senin, 25 November 2019.

    Kendati mengamini hasil riset Setara Institute, ia justru mempertanyakan dasar penilaian dari penelitian itu. "Saya enggak tahu (hasil riset itu) dasarnya apa ya."

    Ia menegaskan pihaknya sudah melakukan berbagai upaya untuk menekan kasus intoleran. Di antaranya menjembatani interaksi dan dialog para warga intoleran dengan warga yang menjadi korban.

    Hal ini pernah dilakukan pada kasus penolakan salah seorang warga nonmuslim bernama Slamet di Kabupaten Bantul. Slamet Jumiarto, 42. Slamet ditolak tinggal di RT 8 Dusun Karet, Desa Pleret, Kecamatan Pleret, Bantul, karena berbeda agama dengan warga sekitar.

    "Makanya kita keras kalau ada hal-hal yang kurang berkenan. Karena kalau enggak ditangani akan menumbuhkan intoleransi," tegas dia.

    Ia juga memberi contoh pada kasus soal penolakan Keraton Yogyakarta atas penggunaan Masjid Agung Kauman untuk penyelenggaraan acara kelompok agama tertentu. Padahal, masjid tersebut juga terbuka untuk penyelenggaraan acara budaya keraton Yogyakarta.

    "Itu semua upaya untuk mencegah intoleransi," tegasnya.

    Catatan Medcom.id, selama 2019 terdapat beberapa kasus intoleransi. Sebagian besar terjadi di Kabupaten Bantul, dengan kasus yang beragam. 

    Mulai dari pemotongan nisan kayu salib di Kabupaten Sleman. Adapula pembubaran paksa kegiatan acara persiapan labuhan pantai dan pelarangan ibadah di gereja GPIB di Bantul. Kasus teranyar adalah pembubaran upacara warga Hindu Ki Ageng Mangir di Bantul.



    (MEL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id