Kuota Impor Garam Diminta Dibatasi

    Kuntoro Tayubi - 18 Oktober 2019 13:28 WIB
    Kuota Impor Garam Diminta Dibatasi
    Ilustrasi petani garam. (Foto: ANTARA/Oky Lukmansyah)
    Brebes: Anggota DPR Paramitha Widya Kusuma meminta pemerintah membatasi impor garam. Masuknya garam impor ke pasar dalam negeri membuat harga garam dari petani lokal anjlok.

    Menurut dia, sejak rekomendasi impor garam dibuka, peredarannya mulai tak terkendali.

    "Pemerintah seharusnya memikirkan agar rekomendasi pemberian kuota impor garam diperketat. Dengan begitu saya yakin harga jual garam petambak akan lebih baik," kata dia, Jumat, 18 Oktober 2019.

    Paramitha mengatakan anjloknya harga garam lokal saat ini yang mencapai titik terendah yakni Rp150 per kilogram adalah imbas dari impor 2,7 juta ton garam pada 2018. Suplai garam menjadi berlebih lantaran produksi garam lokal juga mencapai jumlah yang sama. 

    Sedangkan untuk tahun ini, produksi ditargetkan mencapai 2,3 juta ton garam sementara kuota impor tak berubah. Suplai berlebih ini lah yang memicu harga garam anjlok.

    "Pemerintah juga perlu membuat banyak pabrik supaya petani bisa menjual garam olahan. Tak ada pabrik, petani garam hanya bisa menjual bahan baku. Kalau sudah diolah kan harganya bisa lebih tinggi," kata dia.

    Selain itu, kata dia, pemerintah juga tidak bisa melepaskan harga garam hanya pada mekanisme pasar karena akan merugikan petani garam lokal. Hal itu juga memberi ruang bagi kartel untuk menentukan harga sesuai keinginan pengusaha.

    “Kalau pemerintah membiarkan harga garam pada (mekaniseme) pasar, pabrik akan menekan harga yang paling rendah di tingkat petani garam domestik," ungkapnya.

    Ia juga mempertanyakan peran BUMN garam dalam menghadapai stabilitas harga pasar. Seharusnya BUMN garam meningkatkan produksi garam industri guna memenuhi kuota nasional bukan malah memproduksi garam konsumsi.

    Berdasarkan informasi, harga garam saat ini anjlok hingga berkisar Rp550-575 per kilogram (kg) di titik pengumpul, untuk kualitas I (KW I). Sedangkan, untuk KW II dihargai lebih rendah Rp100 per kg. Harga tersebut, merupakan harga jual petani kepada pengumpul di pinggir-pinggir jalan di sentra produksi.



    (MEL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id