comscore

Alarm Peringatan Tidak Berbunyi Saat Lapas Kelas I Tangerang Terbakar

Hendrik Simorangkir - 15 Februari 2022 20:51 WIB
Alarm Peringatan Tidak Berbunyi Saat Lapas Kelas I Tangerang Terbakar
Suasana ruang sidang 1 Pengadilan Negeri Tangerang kasus kebakaran Lapas Kelas I Tangerang.
Tangerang: Mantan Kepala Lapas Tangerang Kelas I Tangerang Victor Teguh Prihartono mengakui, saat terjadi kebakaran tidak ada peringatan yang berbunyi untuk menandakan kewaspadaan. Hal tersebut terungkap saat dirinya menjadi saksi di dalam persidangan kasus kebakaran Lapas di Pengadilan Negeri (PN) Tangerang.

"Tidak ada lonceng yang berbunyi dari pos penjagaan saat kejadian kebakaran tersebut," ujar Victor saat ditanya majelis hakim Aji Suryo terkait suara peringatan berbunyi, Selasa, 15 Februari 2022.
Victor mengatakan di setiap pos penjagaan terdapat lonceng yang bertujuan untuk memberikan informasi jika terjadi adanya sebuah peristiwa.  "Ada tujuh pos yang memiliki lonceng. Tapi tidak ada yang membunyikannya," ucap dia.

Selain bertanya terkait adanya peringatan, majelis hakim pun bertanya terkait jumlah alat pemadam kebakaran (Apar) yang dimiliki Lapas Kelas I Tangerang.

"Ada 8 Apar di seluruh lapas. Tapi, di dalam tiap blok tidak ada Apar," katanya.

Baca: Saksi Sebut Ada Napiter di Lapas Klas IA Tangerang Berjualan Dalam Sel

Sementara, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri (Kejari) Kota Tangerang Oktaviandi Samsurizal, mencecar pertanyaan kepada Kepala Keamanan dan Ketertiban Lapas Kelas I Tangerang Ngadino. Okta bertanya saat menjadi pengawas piket petugas keamanan, di mana posisi Ngadino saat itu 

"Izin, saya sedang berada di rumah dinas saat kejadian," ucap Ngadino.

Mendengar jawaban tersebut, Okta kembali bertanya terkait tugas pokok dan fungsinya sebagai pengawas piket. 

"Saya bertugas untuk melakukan kontrol ke hunian, keamanan dan ketertiban di Lapas," kata Ngadino.

Okta pun kembali bertanya apakah ada perintah khusus dari Ngadino yang berhak untuk memerintahkan jajarannya dalam kasus tersebut.

"Itu (pemberi arahan) bersifat insidentil. Itu dari Kalapas," singkatnya.

Setelah mendengar ucapan dari Ngadino yang kurang puas itu, Okta pun mencecar pertanyaannya ke mantan Kalapas Kelas I Tangerang Victor Teguh Prihartono. 

"Apakah seorang pengawas piket wajib berjaga di kantor atau diperbolehkan pulang?" tanya Okta.

"Wajib di kantor pak," ucap Victor.

Okta pun kembali mempertanyakan terkait insidentil yang berhak dilakukan saat terjadinya kebakaran.

"Dalam kondisi darurat, insidentil berhak untuk melakukan pengambil tanggung jawaban yakni pengawas piket," ucap Victor.

Selain itu, Okta pun dengan lantangnya menanyakan terkait  anggota jaga yang bertugas di blok C saat kejadian kebakaran. 

"Saat itu anggota yang berjaga di blok itu Yoga," ucap dia.

Okta pun kembali bertanya, apakah tahu jika keberadaan Yoga tidak berada di tempat yang seharusnya dijaga? 

"Tidak tahu pak," ujarnya.  

"Ada laporan jika Yoga berada di dapur Lapas saat kejadian itu?" tanya Okta.

"Saya pun terkait itu tidak tahu pak," jawab Ngadino.

Selain Ngadino dan Victor, sidang yang digelar di ruang sidang 1 PN Tangerang ini menghadirkan dua saksi lainnya, yakni Willy Gunawan sebagai bendahara dan Arif Rahman kasi keamanan. Sidang ketiga ini pun turut menghadirkan empat orang terdakwa dalam kasus kebakaran tersebut.

Keempatnya, merupakan pegawai Lapas Kelas I Tangerang, adalah Suparto, Rusmanto, Yoga Wido Nugroho, dan Panahatan Butar Butar. Suparto, Rusmanto, dan Yoda didakwa Pasal 359 KUHP. Sementara itu, Panahatan didakwa Pasal 188 KUHP.


(WHS)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id