Terinspirasi dari Internet, Pelaku Penusukan Polisi di Palembang Berniat Jadi Teroris

    Media Indonesia.com - 05 Juni 2021 15:18 WIB
    Terinspirasi dari Internet, Pelaku Penusukan Polisi di Palembang Berniat Jadi Teroris
    Kapolda Sumsel Irjen Pol Eko Indra Heri saat membesuk Bripka RD di rumah sakit Bhayangkara M Hasan Palembang. Foto: Istimewa



    Palembang: Pelaku penusukan polisi lalu lintas di Palembang, Sumatra Selatan (Sumsel) bernama M Ikhsan (34) pernah terlibat kasus terorisme. Ia diduga bergabung dengan jaringan amaliyah pernah jadi tahanan kasus teroris tahun 2013 di Jakarta. 

    Menanggapi kabar itu, Kapolda Sumsel, Irjen Eko Indra Heri, mengatakan pihaknya masih mendalami motif. Termasuk dugaan keterlibatan dengan jaringan teroris. 

     



    "Kita masih dalami (dugaan pelaku jaringan teroris). Tim masih bekerja di lapangan untuk ungkap latar belakang, motif, dan sebagainya," kata Eko, Sabtu, 5 Juni 2021. 

    Kasat Reskrim Polrestabes Palembang, Kompol Tri Wahyudi, mengungkapkan Bripka Ridho Oktonardo diserang di Pos Polisi Angkatan 66 Palembang, Jumat 4 Juni 2021 pukul 14.45 WIB. Pelaku penusukan mengaku nekat menusuk korban karena terobsesi ingin menjadi teroris. 

    "Saya itu cuma pengen menjadi teroris, mangkanya saya nekat nusuk polisi itu. Saya ingin jadi teroris karena terinspirasi internet," ujar Ikhsan.

    Ikhsan menepis isu kalau kejadian itu dipicu persoalan tilang (bukti pelanggaran) lalu lintas yang ia perbuat sebelumnya. 

    "Bukan karena tilang saya menusuk dia (anggota polantas), saya tidak pernah ditilang, saya ini ingin jadi teroris. Saya masih belajar, ingin buka jaringan sendiri (baru)," kata dia. 

    Baca: Pelaku Penusukan Polisi di Palembang Berteriak: "Saya Teroris"

    Ia tetap bersikeras bahwa tujuan sebenarnya adalah pelaku ingin mengambil senjata api milik Bripka Ridho. Karena ada perlawanan, pelaku akhirnya nekat melakukan aksi penusukan. 

    "Saya ingin mengambil pistol polisi itu untuk aksi teroris, buat jaga-jaga. Karena dia melawan mangkanya saya tusuk tiga kali. Saya bawa tiga pisau beli di dekat rumah saya di daerah Kenten Laut, Banyuasin," beber dia. 

    Ketika disinggung keterlibatannya dalam jaringan teoris amaliyah dan pernah ditahan di Nusa Kambangan tahun 2013 terkait kasus terorisme, dia membenarkan namun tidak seluruhnya. 

    "Memang saya pernah ditahan dua minggu di Mako Brimob Jakarta. Di tahun 2014, tiga bulan di Nusa Kambangan kasus terorisme, bukan jaringan amaliyah. Tapi sebenarnya itu fitnah," terang dia. 

    (SYN)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id