Penanganan Ketidakpastian Bencana Erupsi Merapi Disusun

    Ahmad Mustaqim - 25 Agustus 2020 18:41 WIB
    Penanganan Ketidakpastian Bencana Erupsi Merapi Disusun
    Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan Penanggulangan Bencana BNPB, Berton Suar Panjaitan (kiri) dan Kepala Pelaksana BPBD DIY, Biwara Yuswantana. Medcom.id/Ahmad Mustaqim
    Yogyakarta: Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyusun rencana penanganan ketidakpastian atau kontingensi bencana erupsi Gunung Merapi. Langkah ini diambil menyusul status waspada Gunung Merapi sejak Mei 2018 dan juga masa pandemi covid-19.

    Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan Penanggulangan Bencana BNPB, Berton Suar Panjaitan, mengatakan rencana penanganan bencana dalam kondisi ketidakpastian perlu penanganan khusus. Sasaran perencanaan tertuju di wilayah paling dekat dengan puncak Gunung Merapi, seperti tujuh desa di Kecamatan Turi, Cangkringan, dan Pakem, Kabupaten Sleman.  

    "Kita sudah susun rencana kontingensi yang skenarionya berdasarkan rekomen dari BPPTKG (Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi), " kata Berton di Hotel Pesonna Tugu, Kota Yogyakarta, Selasa, 25 Agustus 2020.

    Baca: Merapi Bergemuruh

    Dia menilai, masa pandemi covid-19 jadi pertimbangan penting. Protokol kesehatan harus menjadi acuan utama penanganan bencana bila sewaktu-waktu Gunung Merapi erupsi. Pusat komando penanganan ditempatkan di Sleman.

    "Karena saat situasi seperti sekarang berdampak pada kebutuhan-kebutuhan evakuasi pandemi covid-19, protokol kesehatan harus diterapkan. Mulai dari transportasi untuk evakuasi, lokasi penampungan di barak pengungsian, kapasitas barak juga harus diisi setengah dari jumlah kuota maksimal," katanya.

    Sementara, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana daerah (BPBD) DIY, Biwara Yuswantana, mengatakan rencana kontingensi perlu disiapkan saat ini. Apalagi status kebencanaan Gunung Merapi tak bisa diprediksi seperti sebelumnya.

    Dia menerangkan, status bencana yang ditetapkan BPPTKG menjadi bagian penting dalam persiapan itu. Kewaspadaan harus dilakukan sejak status waspada, siaga, dan awas.

    "Di dalam rencana kontigensi disiapkan hal-hal terkait bagaimana pola komando, logistik, letak barak pengungsian, proses evakuasi akan dilakukan seperti apa, termasuk penanganan kelompok rentan," ujarnya.

    Pihaknya hingga saat ini tengah menyiapkan barak pengungsian hingga logistik. Dua aspek ini dinilai jadi hal penting untuk disiapkan lebih dulu. 

    (LDS)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id