Data Semrawut Bikin Camat di Surabaya Sulit Lacak Warga Positif Covid-19

    Antara - 25 Juni 2020 15:45 WIB
    Data Semrawut Bikin Camat di Surabaya Sulit Lacak Warga Positif Covid-19
    Ilustrasi. Medcom.id
    Surabaya: Sejumlah camat di Kota Surabaya, Jawa Timur, mengaku kesulitan melacak warga yang terpapar virus korona di wilayahnya. Pasalnya, data yang diterima dari Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Jatim melalui Dinas Kesehatan Surabaya tidak sesuai dengan kependudukan. 

    "Bahkan pernah ada dua nama yang usianya beda pula, namun tertulis di alamat yang sama," kata Camat Genteng, Linda Novanti, di Surabaya Kamis, 25 Juni 2020, melansir Antara. 

    Dia menuturkan, setelah dilacak pihak puskesmas, ternyata dua nama itu hanya ada satu orang dan telah lama meninggalkan Kota Surabaya. Warga yang dimaksud, kata dia, mengaku ke Surabaya hanya untuk berobat. 

    "Artinya, di sini hanya ada satu warga, bukan dua. Tapi data yang kami terima itu ada dua orang. Datanya itu tertulis dobel. Kami sudah lakukan verifikasi dan sudah beres," terangnya.

    Senada, Camat Wonokromo, Tomi Ardiyanto, mengaku kerap menemukan data tidak sinkron antara KTP dengan domisili. Kasus itu pernah ditemui ketika mencari data warga berinisial A. 

    "Setelah ditelusuri ternyata warga tersebut sudah 30 tahun tidak tinggal di Surabaya," ungkap Tomi. 

    Baca: 168 Pasien Covid-19 di Surabaya Sembuh Hari Ini

    Tomi mengatakan, hal itu sering ditemukan. Bahkan, lanjut dia, pihaknya butuh waktu untuk menemukan pergerakan orang tersebut karena ada di administrasi kependudukan, tapi tempat tinggal tidak sesuai domisili.

    "Kami sudah tanyakan kepada warga setempat, RT/RW dan juga tetangga dekatnya," ujarnya.

    Setelah melakukan verifikasi data tapi tidak ditemukan, lanjut dia, langkah berikutnya adalah membuat berita acara atau surat keterangan. Dalam surat keterangan dilaporkan bahwa warga atas nama A itu tidak ada dalam wilayahnya.

    "Kadang juga ada rumahnya yang kosong. Jadi, surat itulah yang menjadi dasar pemerintah kota kalau sudah melakukan verifikasi dan klarifikasi tentang keberadaan pasien konfirmasi covid-19 itu," ujarnya.

    Serupa, Camat Tambaksari, Ridwan Mubarun, menuturkan pada 1 Juni 2020, seorang warganya terkonfirmasi covid-19 setelah melewati tes usap. Kemudian warganya menjalani karantina selama 14 hari di Asrama Haji, dan dites usap kembali dengan hasil negatif.

    "Tapi namanya masih saja muncul sebagai orang yang positif. Dia ternotifikasi dua kali, sehingga itu menambah jumlah pasien covid-19 yang ada di Kota Surabaya," kata Ridwan.

    Camat Sawahan, Yunus, juga mengakui hal yang sama. Dia menerangkan saat warganya sudah dinyatakan sembuh dan sudah dilaporkan, namun nama itu muncul kembali.

    Dia mengungkap, kemunculan kembali nama warganya itu tidak hanya dalam satu dua hari, tapi setelah satu minggu berikutnya. Padahal  sudah dinyatakan sembuh.

    "Jadi, terkait data yang dobel itu nyata adanya. Kalau selisih sehari dua hari tidak ribet. Tapi kalau sudah seminggu atau sepuluh hari muncul lagi, nah ini sangat ribet. Ada yang sudah dilaporkan, tapi muncul lagi, dilaporkan lagi, muncul lagi. Ini kan aneh," terangnya.

    Camat Karang Pilang, Eko Budi Susilo, juga menjelaskan berbagai kendala yang dialaminya. Namun, kata dia, berbagai kendala itu tidak menyurutkan niatnya untuk gencar melakukan tracing di wilayah Karang Pilang.

    "Ada yang konfirm covid-19 tapi sama anggota keluarganya malah disembunyikan. Tapi kami terus berupaya dan berkunjung dengan tiga pilar, hingga akhirnya kami berhasil mengatasinya," katanya.



    (LDS)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id