Tes Usap Warga Terlibat Pemakaman Jenazah Covid-19 di Bantul Dijadwal Ulang

    Ahmad Mustaqim - 03 Juni 2021 19:28 WIB
    Tes Usap Warga Terlibat Pemakaman Jenazah Covid-19 di Bantul Dijadwal Ulang
    ilustrasi Medcom.id



    Bantul: Pemerintah Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menjadwal ulang tes usap PCR untuk warga terlibat dalam pemakaman jenazah covid-19 tanpa protokol kesehatan di Desa Trimurti, Kecamatan Srandakan. Rencana tes usap pada Kamis, 3 Juni 2021, gagal dilakukan.

    Camat Srandakan, Anton Yuliyanto, mengatakan tes usap massal batal dilakukan karena sejumlah hal. Ia mengatakan, dengan mempertimbangkan sejumlah hal rencana itu diatur ulang.

     



    "Ini sesuai dengan rapat dengan Forkopim Kapanewon Srandakan dan juga mempertimbangan kondisi masyarakat di sana," kata Anton dihubungi, Kamis, 3 Juni 2021.

    Baca: 53 Warga di 4 RT di Kelapa Dua Tangerang Terpapar Covid-19

    Anton menjelaskan, warga setempat belum bersediakan mengikuti tes usap massal. Di sisi lain, kata dia, warga keberataan atas pemberitaan peristiwa pemakaman jenazah covid-19 tanpa protokol kesehatan di wilayah itu yang terjadi Selasa, 1 Juni.

    Anton mengutarakan, tes usap massal akan tepat bila dilakukan Sabtu, 5 Juni mendatang. Menurut dia, jeda lima hari setelah dugaan kontak dengan pasien covid-19 bisa efektif jika dilakukan tes tersebuy.

    "Mau tidak mau, mereka tetap harus swab. Teknisnya nanti mobil di salah satu rumah warga di (Dusun) Lopati, dan mereka kami panggil satu per satu," ujarnya.

    Baca: Naik Lagi, Pasien Covid-19 RSD Wisma Atlet Jadi 2.278 Orang

    Terpisah, Kepala Desa Trimurti, Agus Purwaka, berujar, ada sekitar 27 orang yang ikut proses pemakaman. Dari jumlah itu, baru 6 orang yang bersedia jalani tes PCR.

    Menurutnya, jumlah orang ikut proses pemakaman bisa bertambah tergantung dari hasil tracing Satgas Covid-19 tingkat desa dan kecamatan. Agus mengatakan, tes PCR akan dilakukan untuk warga yang hadir dalam pemakaman tiga jenazah positif covid-19 tanpa protokol kesehatan di desanya.

    "Kami akan jemput bola. Kalau untuk yang (Kampung) Mayongan ini lebih relatif mudah, karena secara sosial kultur sudah beda dengan yang (Dusun) Lopati," kata dia.

    (LDS)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id