1.500 Pilot Menganggur

    Hendrik Simorangkir - 26 Oktober 2019 19:47 WIB
    1.500 Pilot Menganggur
    Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Perhubungan Umiyatun Hayati Triastuti. Foto: Medcom.id/Hendrik Simorangkir
    Tangerang: Sekitar 1.500 lulusan penerbangan yang menjadi pilot belum mendapatkan pekerjaan. Mereka tersebar di seluruh sekolah penerbangan yang ada di Indonesia.

    Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Perhubungan (BPSDMP) Umiyatun Hayati Triastuti menyebut telah menggandeng sejumlah operator hingga maskapai penerbangan untuk menekan angka pengangguran itu. Pendekatan dilakukan untuk memahami kebutuhan industri.

    "Kuncinya kita benar-benar menerapkan link and match mulai dari perencanaan kita sudah sepakat membuat roadmap. Kita berpartner dengan semua asosiasi, industri, regulator, dan termasuk para operator penerbangan," kata Umiyatun usai menghadiri Kongres I Ikatan Pilot Alumni Curug (IPAC), di Curug, Kabupaten Tangerang, Banten, Sabtu, 26 Oktober 2019.

    Menurut dia, kerja sama maskapai dan asosiasi penerbangan seperti IPAC diperkuat agar tidak ada lagi ketidakcocokan antara lulusan pilot dan industri penerbangan. Maskapai Garuda Indonesia, contoh dia, sudah dirangkul untuk mendalami masalah ini.

    "Bahkan sejak rekrutmen awal sudah berkolaborasi dengan industrinya," jelas dia. 

    IPAC, jelas dia, terus dilibatkan untuk memantau kebutuhan industri penerbangan dengan sumber daya manusia (SDM) yang dihasilkan Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia (STPI) Curug. Pendekatan komprehensif diutamakan.

    "Arahan Presiden (Joko Widodo) tidak hanya satu aspek teknis operasional, ada finansial, legal, ada lainnya. Kita akan bina terus untuk menutup jarak tadi tapi tidak bisa dalam waktu satu hari," jelasnya.

    Ketua IPAC Kapten Daniel Dewantoro menyebut dari 1.500-an pilot yang masih belum mendapat pekerjaan, sekitar 150 orang lulusan STPI Curug. Mereka sudah mulai diberdayakan kemampuannya untuk mengabdi kembali di STPI.

    "Kita sudah menyerap pilot magang di STPI Curug, kita ditempatkan ke perencanaan, humas, di pendidikan, dan unit-unit terkait. Jadi sebetulnya, yang magang itu sudah banyak bahkan di Dirjen (Direktorat Jenderal) Perhubungan Udara, di Otban (Otoritas Bandar Udara) juga banyak," jelas Daniel.

    Daniel mengakui menjadi pilot senior di sebuah maskapai memang dapat menjadi awal cerah untuk menekan angka pengangguran di bidang penerbangan. Untuk itu, pihaknya terus membuka kerja sama dengan pelaku penerbangan.

    "Sehingga apa yang mereka butuhkan kita akan berikan link and match. Hubungan dulu yang kita jalin kemudian bicara dengan pimpinan perusahaan, industri dan dengan itu kita akan menawarkan SDM yang kompetitif sehingga kita bisa memberikan apa yang dibutuhkan industri," ungkapnya.

    Sementara itu, berdiri sejak 1998, IPAC yang sempat vakum selama setengah tahun bergerak kembali demi menjadi motor motivasi para taruna dan lulusan sekolah penerbangan. Selama tiga tahun ke depan, Daniel berjanji memaksimalkan visi dan misi asosiasinya untuk menjembatani lulusan STPI Curug dan sekolah penerbang se-Indonesia.

    "Aktifkan lagi (IPAC) karena penerbang itu menjadi SDM yang banyak sekali kebutuhan. Hanya saja kita terabaikan kalau tidak punya akses dan organisasi yang mendorong pilot-pilot muda ini," ungkap dia.






    (OGI)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id