Mencontoh Jogja, Pemkot Malang Sukses Kelola Bank Sampah

    Patricia Vicka - 01 November 2019 18:03 WIB
    Mencontoh Jogja, Pemkot Malang Sukses Kelola Bank Sampah
    Sekda Pemkot Malang, Wasto(paling kanan)
    Malang: Pemerintah Kota Malang punya strategi jitu mengurangi sampah melalui pemberdayaan bank sampah. Strategi ini membawa Kota Malang meraih penghargaan dari Kemenkomaritim dan didaulat sebagai daerah percontohan pengelolaan sampah.

    Sekda Pemkot Malang, Wasto menjelaskan program bank sampah dimulai tahun 2010. Ide awalnya mencontoh dari pengelolaan sampah di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

    "Kami adaptasikan program itu dengan wilayah kami. Kami modifikasi melalui sistem bank sampah. Bedanya kalau di sini kami buat induk bank sampah, lalu masyarakat buka cabang-cabangnya. Kalau di Jogja sebaliknya. Cabang dulu baru induknya," jelas Wasto dalam acara kunjungan wartawan Jogja ke Balaikota Malang, Kamis, 31 Oktober 2019.

    Bank sampah induk pertama kali diluncurkan pada tahun 2011. Kemudian, lahirlah cabang-cabang bank sampah hingga tingkat RT dan RW. 

    Tercatat dalam sehari, Kota Malang menghasilkan sampah 500 hingga 600 ton sehari. Wasto melanjutkan masyarakat bisa menjual sampah buangan rumah tangga ke Bank sampah. Harganya kisaran Rp500 hingga puluhan ribu perkilogram.

    "Ada lebih dari 70 klasifikasi sampah yang bisa dijual disini. Kami buatkan katalog yang berisi harga sampah per klasifikasi item. Jadi warga bisa menghitung sendiri pendapatannya," kata pemuda asli Gunungkidul ini.

    Kepala Bidang Kemitraan dan Kerjasama Dinas Lingkungan Hidup Kota Malang, Rahmat Hidayat mengatakan dengan transparansi harga, warga terpacu untuk menyetor sampah ke bank ketimbang ke pengepul. 

    "Lalu bank sampah akan menjual sampah tersebut ke pengepul atau ke perusahaan. Dengan begitu kami bisa mengurangi mafia-mafia sampah yang selama ini ada," kata pengagas berdirinya bank sampah.

    Awalnya, Rahmat merasa kesulitan mengajak masyarakat untuk memilah dan menjual sampah secara mandiri. Namun Pemkot tak kehabisan akal. Dinas Lingkungan hidup menggandeng ibu- ibu PKK serta ketua RT dan RW untuk mengerakkan masyarakat memilah dan menjual sampah ke Bank sampah. Pemkot turut menggencarkan promosi dengan mengadakan lomba bersih kampung. 

    "Bank sampah kini mampu mengatasi sekitar 5ribu ton sampah sehari. dan mengurangi sekitar dua persen sampah yang dihasilkan masyarakat,"kata dia.

    Hingga 2019, Bank sampah sudah memiliki sekitar 500 cabang, serta 30 ribu nasabah dengan omzet 300 juta perbulan. Selain itu warga sudah punya kesadaran tinggi untuk memilah dan menjual sampah.

    Kabag Humas dan Protokol Sekretariat DPRD DIY, Budi Nugroho berharap agar pengelolaan bank sampah Di DIY juga bisa sukses seperti pengelolaan bank sampah di kota Malang.



    (ALB)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id