Salju Abadi yang Terlupakan

    Roylinus Ratumakin - 06 Desember 2019 19:00 WIB
    Salju Abadi yang Terlupakan
    Para pendaki saat tiba di puncak Cartenz. Foto: Medcom.id/Istimewa.
    Jayapura: Lapisan es di Puncak Cartenz tak lagi abadi. Kenyataan itu bukan isapan jempol karena banyak penelitian dan kesaksian penduduk menegaskan bila perlahan namun pasti salju di pucuk pegunungan tertinggi Jayawijaya, Papua terus menyusut dari tahun ke tahun.

    Melihat hal tersebut, Maximus Tipigau selaku Presidium Asosiasi Pendaki Gunung Papua (PMA) ingin menjadikan Cartenz sebagai destinasi wisata bagi para pecinta olahraga ekstrem.

    Tipigau dan asosiasinya pun ingin Papua dikenal oleh dunia. Dengan keinginannya tersebut, pihaknya berusaha membuka peluang dari segi pariwisata dan kebudayaan sehingga ekonomi kreatif masyarakat lokal setempat dapat bertumbuh.

    “Saya melihat pada tahun 2020 dan seterusnya peluang sangat besar sekali untuk pariwisata dan sektor budaya di pesisir pantai dan juga gunung yang wilayahnya masih terisolasi, pembangunannya juga belum berjalan normal dan susah dijangkau dengan transportasi. Khususnya di lokasi pendakian Cartenz belum ada homestay,” kata Tipigau.

    Tak adanya akses yang memadai membuat salah satu dari tujuh gunung (seven summits) tertinggi itu di dunia enggan dikunjungi oleh para turis lokal maupun mancanegara.

    “Permasalah di puncak Cartenz itu adalah masalah keamanan yang paling utama. Selain itu biaya transportasi, akses akomodasi yang sampai saat ini belum ada kepastian termasuk soal regulasi. Hal ini disebabkan karena belum ada komitmen dari Pemerintah Pusat, provinsi, maupun kabupaten terkait dengan potensi pariwisata dari puncak Cartenz tersebut,” ujarnya.

    Tipigau pun berkomitmen untuk membicarakan puncak tertinggi di Indonesia tersebut di asosiasi internasional. Apalagi, even nasional terbesar akan berlangsung di tanah Papua yaitu Pekan Olahraga Nasional (PON) XX 2020.

    “Presiden Asosiasi Internasional rencananya akan datang pada penyelenggaraan PON tahun 2020. Tujuannya adalah melihat Papua secara langsung dan ia juga akan mendaki puncak Cartenz. Saya sebagai ketua asosiasi untuk Papua, meminta kepada pemerintah provinsi agar dalam  even-even penting melibatkan sektor pariwisata salah satunya soal tourism Cartensz pyramid,” katanya.

    Dukungan yang dibutuhkan Tipigau dari pemerintah adalah dalam bentuk dukungan memberikan edukasi yang baik kepada masyarakat seperti pelatihan menjadi pemandu wisata (guide), pelayan jasa (porter), serta nilai-nilai pariwisata. Itu akan menjadi bekal ketika turis utama untuk melayani para tamu (turis).

    “Saya berharap pelaksanaan PON 2020, pemerintah bisa serius melihat peluang yang bisa dikembangkan. Jangan hanya melihat dari sisi olahraganya tapi perlu melihat ekonomi berkelanjutan dari dampak pelaksanaan PON tersebut,” ujarnya.

    Selain puncak Cartenz, PMA yang berkantor pusat di Timika, Kabupaten Mimika tersebut telah fokus mengembangkan wisata lainnya yaitu di Ilaga, Kabupaten Puncak, Intan Jaya, Gunung Cycloop (Kabupaten Jayawijaya), gunung Trikora (Kabupaten Jayawijaya), dan pegunungan Arfak, Manokwari (Provinsi Papua Barat).

    Es di Puncak Cartenz diambil dari nama penemunya John Cartenzoon pada 1623. Saat ini es di Puncak Cartenz  menyusut dari 20 kilometer persegi menyusut menjadi 16,4 kilometer persegi.

    Padahal hasil ekspedisi ilmiah yang dilakukan tim peneliti CGE (Cartenz Glacier Expedition) dari Australia pada 1970-an pernah mencatat luas gletser di ketinggian 4.884 meter di atas permukaan laut (mdpl) Cartenz waktu itu 6,95 kilometer persegi.

    Sementara itu, hasil citra satelit IKONOS pada 2006 juga menunjukkan bukti lain. Penyusutan luas permukaan es mencapai 90 persen atau hanya tersisa sekitar 2,3 kilometer persegi pada tahun 2000 dan 2,1 kilometer persegi pada 2002. Dari penelitian-penelitian terkini banyak ahli memperkirakan umur salju abadi di Puncak Cartenz tidak akan lama lagi.

    Ahli Iklim dan Laut Indonesia Dwi Susanto, mengatakan jika umur gletser di puncak Pegunungan Jayawijaya hanya bakal bertahan sekitar 20-30 tahun lagi. Pencairan itu, katanya, disebabkan oleh perubahan cuaca yang begitu ekstrem dalam kurun waktu lumayan cepat. 



    (ALB)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id