Wilayah Timur Indonesia Diajak Bersatu Membangun Ekonomi

    Roylinus Ratumakin - 01 Februari 2020 20:17 WIB
    Wilayah Timur Indonesia Diajak Bersatu Membangun Ekonomi
    Gubernur NTT Viktor Laikodat bersama Sekda Ppaua Hery Dosinaen, Wali Kota Jayapura Benhur Tomi Mano, dan Ketua Flomabora Papua Soleman Hamzah memberikan keterangan pers. Foto: Medcom.id/Roylinus Ratumakin.
    Jayapura: Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Viktor Laiskodat mengajak pemimpin di kawasan timur Indonesia bersama membangun budaya dan ekonomi. Dengan begitu, provinsi yang banyak diisi ras Melanesia itu tidak tertinggal dengan provinsi lain di Indonesia.

    "Hari ini saya melihat sendiri masyarakat saya hidup di Papua. Saya mengucapkan terima kasih kepada masyarakat Papua yang mau hidup berdampingan dengan masyarakat NTT," kata Viktor di GOR Waringin, Abepura, Papua, Sabtu, 1 Februari 2020.

    Viktor mengatakan kerukunan warga Timur Indonesia bisa menjadi modal penting. Ia pun ingin mengajak para pimpinan ras Melanesia di Indonesia seperti Papua, Papua Barat, NTT, Maluku, dan Maluku Utara untuk bekerja sama dalam sektor ekonomi dan budaya.

    "Kalau tidak, daerah ini akan terbuang dan terpencil terus. Saya berharap, kelompok-kelompok bangsa Melanesia yang ada di Indonesia bahu membahu membangun ekonomi dan budaya di daerahnya. Itu menjadi mimpi kita bersama," papar Viktor.

    Viktor menegaskan, Papua, NTT, dan Maluku punya kekayaan alam luar biasa. Namun, daerah tersebut masih menjadi daerah termiskin di Indonesia. 

    Bagi Viktor, ini merupakan tantangan guna menyiapkan generasi masa depan agar bisa membangun kehidupan emas. Tanggung jawab pemerintah adalah membangun kontruksi pembangunan masa depan. Viktor mengaku bakal mengundang Gubernur Papua, Papua Barat, bupati dan wali kota untuk mendiskusikan lebih spesifik kerja sama yang akan dibangun.

    "Misalnya budaya seperti apa, dan ekonomi seperti apa. Karena provinsi ini mempunyai komperasi dalam ekonomi yang cukup banyak untuk didiskusikan," ujarnya

    Viktor mencontohkan, selama ini NTT masih memberli beras dari Jawa dan Makassar. Padahal, kata dia, Papua adalah gudang beras, jagung, dan ternak.

    "Semen, misalnya, NTT masih butuh 1,2 juta metric ton per tahun. Itu datangnya dari luar. Hal-hal ini yang bisa didiskusikan bersama di mana yang belum bisa dikelola oleh NTT begitu pun sebaliknya di Papua," ujarnya.



    (AGA)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id