Kisah Polisi di Malang Jadi Relawan Pemakaman Jenazah Covid-19

    Daviq Umar Al Faruq - 14 Juli 2020 22:56 WIB
    Kisah Polisi di Malang Jadi Relawan Pemakaman Jenazah Covid-19
    Kasat Intelkam Polresta Malang Kota, Kompol Sutiono bersama lima rekannya mengubur jenazah pasien covid-19 di Kota Malang, Jawa Timur. Dokumentasi/ Polresta Malang Kota
    Malang: Kasat Intelkam Polresta Malang Kota, Kompol Sutiono, bersama lima orang personel lainnya menjadi relawan penguburan jenazah pasien covid-19 di Kota Malang, Jawa Timur.

    Sutiono bersama rekannya Ipda Zainul Arifin, Aiptu Tri Sulistiyo, Aiptu M Arif Santoso, Aipda Abdillah Cholid, dan Briptu Mubin Nurhuda sudah memakamkan 75 jenazah pasien covid-19.

    Mereka menjadi relawan sejak April 2020 lalu. Para polisi ini bergabung bersama relawan Public Safety Center (PSC) 119 Malang mengerjakan tugas berisiko tersebut.

    "Pada pertengahan April 2020, dibentuk tim pemulasaran jenazah Polresta Malang Kota atas perintah Kapolresta. Saat April itu jenazah tidak banyak. Saat Mei itu mulai banyak dan itu tidak mengenal waktu," kata Sutiono di Malang, Selasa, 14 Juli 2020.

    Dia mengisahkan menjadi relawan penguburan bukan hal yang mudah. Mereka dituntut untuk melaksanakam tugasnya dengan cepat dan sesuai prosedur jenazah harus dimakamkan tidak lebih dari empat jam setelah meninggal.

    "Padahal prosesnya lebih lama dari itu. Mulai dari menyelesaikan administrasi, negosiasi dengan keluarga. Tidak pernah ada keluarga yang langsung mau diterapkan protokol penanganan covid-19, pasti berdebat dulu," jelasnya.

    Tidak semua polisi sanggup menjadi relawan pemulasaran. Bahkan tim Sutiono yang awalnya berjumlah total tujuh orang kini menyisakan enam orang polisi saja lantaran tugas yang dilaksanakan tidak mengenal waktu.

    "Sekarang tingal enam orang termasuk saya. Saya terus memberikan motivasi, kalau bukan kita selaku polisi, siapa lagi. Masyarakat sudah tidak berani. Kalau bukan polisi, mana berani. Kalau polisi masih berani," ungkapnya.

    Perasaan takut tak pernah lepas dari benak Sutiono dan lima polisi lainnya. Saat bertugas, mereka diwajibkan mengenakan alat pelindung diri (APD) super rapat. Bahkan, tak jarang mereka kesulitan bernapas saat mengenakan masker.

    "Sempat takut tertular. Pada saat kita tidak enak badan, sudah panik, jangan-jangan tertular. Kemudian saya selalu melakukan rapid test setiap dua minggu sekali. Alhamdulilah saya dan teman-teman lain tidak ada yang reaktif," bebernya.

    Tugas kemanusiaan Sutiono dan kawan-kawannya mendapat apresiasi dari Kapolri Jenderal Idham Azis. Apresiasi khusus itu disampaikan secara langsung oleh Kapolri melalui video call di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Nasrani, Sukun, Kota Malang, pada Jumat, 10 Juli 2020.

    Saat berbicara langsung dengan Kapolri, Sutiono mengaku sempat gemetar. Pasalnya dia tak menyangka bisa berbincang dengan orang nomor satu di lingkungan Polri meski hanya lewat video call.

    "Karena panik, apa yang saya sampaikan ke Kapolri lupa. Tidak ingat jumlah pemakaman, karena kami tidak pernah menghitung jumlah jenazah yang kami makamkan. Jadi sampai salah bicara ke Kapolri, karena panik. Gemetar saya," ujarnya.

    Idham Aziz menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih atas dedikasi Sutiono dan lima rekannya dalam penanganan covid-19. "Yang disampaikan Kapolri, terima kasih sudah melangsungkan, Polri akan memberikan apresiasi, nanti sampaikan ke Kapolres apa keinginanmu, biar Kapolres menyampaikan ke Kapolda," bebernya.

    Sebelumnya Kapolda Jatim, Irjen Mohammad Fadil Imran, telah lebih dulu memberikan penghargaan kepada Sutiono dan kawan-kawan atas keberanian menjadi relawan penguburan jenazah covid-19.

    "Kapolda memberikan apresiasi, bahwa jarang sekali saat seperti ini ada yang rela untuk kemanusiaan, ini sejalan dengan tugas Polri, dan kami diminta untuk tetap berhati-hati," katanya.

    Sutiono mengaku selama bertugas menjadi relawan, ada satu kejadian yang tak bisa dilupakannya. Yakni saat dia memakamkan seorang pria yang dinyatakan positif covid-19 dengan didampingi oleh istri dan anak-anaknya.

    "Yang paling tidak saya lupakan itu ada ibu-ibu, anaknya empat. Bapaknya meninggal, divonis korona. Saya merasa sesak. Saya mengingat hidup saya, terbayang anak dan istri saya. Istrinya pingsan, dua anaknya juga," kenangnya.

    Tugas kemanusiaan yang dilaksanakan Sutiono bersama kawan-kawan ini bukan perkara mudah. Mereka harus berulang kali ikut merasakan kesedihan dari keluarga yang ditinggalkan oleh jenazah pasien covid-19.

    "Saya berusaha menguatkan diri saja, meski harus keluar air mata. Proses pemakaman ini seperti menidurkan orang untuk terakhir kali. Sedih. Meskipun menggunakan peti mati, saya seolah merasakan. Seperti mereka itu melihat kita," ungkapnya.

    Oleh karena itu, sebagai relawan, Sutiono meminta kepada warga Kota Malang untuk tidak meremehkan wabah virus korona. Sebab wabah virus ini diakuinya nyata adanya.

    Sutiono pun mengimbau masyarakat untuk tertib terhadap protokol kesehatan. Sebab, selama ini, dia masih melihat banyak masyarakat yang tidak mengenakan masker.

    "Warga ini masih banyak yang tidak percaya, saya susahnya itu. Mereka tidak percaya bahwa covid-19 itu ada, saya sampaikan bahwa covid-19 itu ada dan sangat luar biasa. Kalau terkena itu tidak ada obatnya," tegasnya.

    (DEN)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id