14 Kecamatan di Brebes Kekeringan

    Kuntoro Tayubi - 24 Oktober 2019 19:35 WIB
    14 Kecamatan di Brebes Kekeringan
    Sungai mengering di Brebes. Foto: Medcom.id/Kuntoro Tayubi
    Brebes: Memasuki Oktober, intensitas hujan di wilayah Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, masih rendah. Akibatnya kekeringan masih melanda di sebagian wilayah Brebes, kebutuhan air bersih meningkat drastis.

    Sekda Brebes, Djoko Gunawan, mengaku Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Brebes hanya memiliki satu armada truk tangki milik BPBD Provinsi untuk mendistribusikan air bersih. Hal ini menyulitkan pemerintah kabupaten dalam membantu warga yang terdampak krisi air bersih.

    "Saat ini jumlah desa yang mengalami kekeringan tersebar di 14 kecamatan dari 17 kecamatan yang ada di Kabupaten Brebes. Permintaan bantuan air bersih sangat banyak, sementara kami hanya memiliki satu armada di BPBD," ungkap Djoko saat dihubungi, Kamis, 22 Oktober 2019.

    BPBD setiap hari melakukan dropping sebanyak dua kali. Kalau jaraknya jauh hanya mampu satu kali dropping. BPBD baru bisa menjangkau 27 desa di 8 kecamatan di Brebes.

    Djoko membeberkan ada satu kecamatan di Kabupaten Brebes yang terdampak paling parah. Yakni Kecamatan Larangan. Beberapa desa di kecamatan ini, sumber sumber air telah mengering.

    "Di sana malah ada sebuah desa di kecamatan Larangan, sama sekali tidak memiliki sumur karena tidak ada sumber air. Sehingga untuk keperluan harian, mereka harus membeli dari pedagang eceran," ungkapnya.

    Sesekali, mereka mendapatkan bantuan air dari pemerintah melalui BPBD dan lembaga lain seperti Polres Brebes, dan pihak swasta. Namun bantuan yang mereka terima hanya untuk mencukupi kebutuhan selama satu hari.

    Kepala Dusun Karangbale, Kecamatan Larangan, Warison, membenarkan hal tersebut. Krisis air bersih di Desa Karangbale dikategori paling parah. Hampir seluruh warga di desa tidak memiliki sumber air berupa sumur, sehingga sangat bergantung pada bantuan dari pemerintah daerah dan instansi lainnya.

    "Sudah lama kami tidak ada sumber air. Biasanya minta ke desa lain, tapi karena kemarau, jadi kami hanya bergantung pada bantuan saja," katanya.

    Dia mengatakan air bersih bantuan dari pemda dan instansi lain sebetulnya tidak cukup untuk dipakai minum, masak, mencuci dan kebutuhan MCK. Warga hanya dijatah empat jeriken setiap dropping air, sedangkan kebutuhan per hari enam jeriken.

    "Solusi lainnya beli ke pedagang air, harga Rp5.000 per jerikennya," ujar dia.

    BPBD Brebes memetakan 41 desa di 14 kecamatan yang mengalami krisis air pada musim kemarau tahun ini. Minimnya armada mobil tangki membuat pembagian dropping air tidak merata, sehingga harus dilakukan secara bergilir.



    (LDS)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id