Menag Imbau Anak Bangsa Bersatu Menjaga Kebhinekaan

    Medcom - 30 November 2019 16:27 WIB
    Menag Imbau Anak Bangsa Bersatu Menjaga Kebhinekaan
    Ilustrasi Medcom.id/ Mohammad Rizal.
    Jakarta: Menteri Agama (Menag) Fachrul Razi mengatakan kerukunan umat beragama sangat diperlukan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Kerukunan adalah keadaan atau kondisi kehidupan umat beragama yang berinteraksi secara harmonis, toleran, damai, saling menghargai dan menghormati perbedaan agama dan kebebasan menjalankan ibadah masing-masing.

    "Untuk mewujudkan keinginan itu, semangat yang harus terus kita gemakan bersama adalah memperkuat tali persaudaraan, persahabatan dan kerukunan, baik secara intern agama, maupun antar umat beragama. Untuk itu, peran lembaga seperti Forum Alumni KMHDI juga harus diperkuat menjadi wadah memelihara kerukunan hidup," kata Fachrul saat seminar kebangsaan HUT ke-18 Forum Alumni Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia (FA KMHDI) di Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sabtu, 30 November 2019.

    Fachrul menjelaskan memperkuat institusi saja belum cukup, sehingga kontribusi aktif semua umat beragama harus ditingkatkan kapasitasnya dalam memelihara kerukunan dan menangangi konflik yang bernuansa keagamaan.

    "Untuk itu saya meminta secara khusus, Forum Alumni KMHDI juga dapat menjalankan tugas dan fungsinya pada penguatan lembaga dan pemeliharaan kerukunan. program strategis ini selaras dengan salah satu misi vital dari Kementerian Agama," jelas Fachrul.


    Sementara hakim konstitusi I Dewa Gede Palguna menyampaikan berdirinya bangsa Indonesia dengan semangat demokrasi. Namun Dewa menilai demokrasi saja tidak cukup.

    "Dalam pembukaan UUD, kemerdekaan kebangsaan yang berkedaulatan rakyat negara demokrasi. Sebab dalam negara demokrasi lah rakyat berdaulat. Namun Demokrasi itu acap kali gagal kalau tidak dijaga rule of law, must be guide of law," jelas Dewa.

    Ketua Presidum FA-KMHDI, I Ketut Wiriana, mendorong pemerintah terus memperkuat upaya-upaya memberantas kabar bohong (hoaks) bermuatan idiologis yang dapat memicu radikalisme, dan berpotensi membahayakan keutuhan NKRI.

    "Semua lembaga pemerintahan dan lembaga-lembaga negara agar terus berupaya memberantas produksi maupun penyebaran hoaks, tentunya dengan disertai dukungan dari seluruh komponen bangsa," kata Wiriana.

    Wiriana menjelaskan maraknya produksi maupun penyebaran berita bohong sangat berbahaya bagi keutuhan NKRI, terlebih bila kabar bohong itu bermuatan idiologis. Karena muatan idiologis dalam kabar bohong dapat memicu berkembangnya radikalisme di tengah masyarakat.

    "Masyarakat umumnya tidak menyadari bahwa di dalam berita bohong itu sebenarnya terkandung paham-paham radikal yang mengusung idiologi tertentu," ungkap Wiriana.

    Wiriana memaklumi bahwa tidak mudah bagi masyarakat umum dan awam untuk mengetahui atau membedakan mana kabar bohong dan mana kabar yang benar. Akibatnya, melalui kabar bohong itu, tidak jarang masyarakat tanpa sadar terpapar paham radikal yang mengusung misi idiologi yang bertentangan dengan Pancasila sebagai idiologi dasar negara.

    Akan semakin berbahaya bila masyarakat karena ketidaktahuannya turut meneruskan atau menyebarkankabar bohong itu. "Dengan sendirinya, tanpa disadari pula, masyarakat yang meneruskan kabar bohong bermotif idiologis itu telah turut serta menjadi agen penyebar paham radikal," jelas Wiriana.

    Wiriana menegaskan pentingnya pemerintah mengambil langkah-langkah tegas dan melakukan berbagai upaya deradikalisasi, antara lain dengan gerak cepat menutup semua ruang gerak penyebaran kabar bohong yang bermuatan idiologis.

    "Sumber-sumber produksi kabar bohong bermuatan idiologis itu seharusnya bisa dideteksi sejak awal, dan kemudian dilakukan berbagai pendekatan untuk memberantasnya," beber Wiriana.

    Dalam acara yang sama anggota Komisi VI DPR I Nyoman Partha mengatakan bahwa Indonesia merupakan negara yang kaya Indonesia negara kaya dan harus dirawat dengan persatuan.

    "Betapa kaya nya kita. Saya ingat sekali sebagai salah satu pelaku, cita-cita reformasi bukan seperti ini yang kami pikirkan dulu. Sekarang muncul konflik horizontal, hoax, banyak cita-cita reformasi belum kesampean," kata Partha.



    (DEN)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id