Pergeseran Metode Visualisasi Aktivitas Gunung Merapi

    Ahmad Mustaqim - 28 November 2020 19:50 WIB
    Pergeseran Metode Visualisasi Aktivitas Gunung Merapi
    Kondisi pertumbuhan lava Gunung Marepi. Dokumentasi/ BPPTKG
    Yogyakarta: Metode pemantauan Gunung Merapi yang diwujudkan menjadi gambar visual terus alami pergeseran. Dari semula sekadar memakai pengamatan kasat mata, kini pengamatan visual didampingi teknologi mutakhir, mulai fotogrametri maupun teknologi penginderaan jauh melalui satelit.

    "Pemantauan visual bertujuan untuk memantau aktivitas Merapi melalui data-data visual," kata Kepala Seksi Gunung Merapi Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), Agus Budi Santoso, dalam siaran tertulis, Sabtu, 28 November 2020.

    Baca: Upaya TNI-Polri Stabilkan Keamanan Papua

    Pengamatan visual kasat mata dilakukan dengan objek berupa kolom asap, titik api, alterasi batuan, lava pijar, awan panas, maupun perubahan morfologi. Pengamatan itu didukung dengan menggambar sketsa morfologi puncak secara berkala.

    Agus mengatakan BPPTKG kini melakukan pemantauan visual dengan teknik fotografi. Pantauan ini dilakukan di 35 stasiun kamera di sekeliling Gunung Merapi, termasuk 9 stasiun kamera DSLR dan dua kamera thermal.  Foto dari kamera itu kemudian menggeser sketsa. Saat muncul kubah lava Merapi pada Agustus 2018 lalu, kata dia, BPPTKG menerapkan analisis fotogrametri untuk melihat perubahan morfologi dari waktu ke waktu.

    "Dari analisis fotogrametri, kita jadi tahu bagaimana kubah lava berkembang. Jadi kubah lava ini berkembang dari tengah kemudian ke sekitarnya atau pertumbuhannya cenderung endogenik," ungkapnya.

    Menurut Agus BPPTKG juga mulai memakai pesawat tanpa awak (drone) untuk pengamatan. Ia mengatakan, metode ini mampu menyajikan gambar dengan perspektif tepat seperti yang diinginkan, bahkan untuk daerah yang tidak terjangkau langsung oleh manusia.

    "Dengan menggunakan drone ini, kita tidak perlu mendatangi tempat-tempat yang berbahaya. Seperti saat ini, tidak ada misi ke puncak karena pemantauan visual dapat dilakukan melalui drone dan satelit," ucapnya.

    Agus mengatakan pengambilan foto dengan pesawat tanpa awak dilakukan berkala sesuai kebutuhan. Gambar itu menjadi bahan anallisi perubahan morfoologi gunung dari waktu ke waktu.

    "Pemantauan dengan menggunakan drone telah dilakukan secara intensif sejak menjelang erupsi tahun 2018 hingga saat ini dengan periode setiap 1 minggu," ungkapnya.  

    Pengamatan Satelit

    Agus mengutarakan pemantauan visual Gunung Merapi juga memanfaatkan satelit. Menurut dia, penggunaan satelit bertujuan sama: mendapatkan data foto objek dari atas. Ia menyebut, resolusi foto satelit saat ini dapat mencapai orde sentimeter, sehingga sangat cukup untuk keperluan analisis morfologi.

    "Pada akhir-akhir ini terjadi pembentukan crack atau rekahan di kawah atau kubah lava setelah 2010 dan 2018. Kemudian juga menunjukkan aktivitas guguran yang intensif. Hasil pengamatan ini menunjukkan magma sudah sangat dekat di permukaan, sehingga kita menunggu kapan magma ini membentuk kubah di permukaan," tuturnya.

    Agus menjelaskan metode pengamatan lain yang dipakai dengan data satelit citra radar yakni Interferometric Synthetic-Aperture Radar (InSAR). Metode ini memberikan gambaran deformasi tiga dimensi dari perubahan fase gelombang radar yang dipancarkan ke objek dan kembali ke satelit.

    Ia mengatakan metode InSAR terkait resolusi yang tidak terlalu tinggi sehingga sulit untuk mendapatkan resolusi orde sentimeter pada deformasi di gunung api.

    "Berbeda dengan metode EDM yang bisa mencapai orde milimeter meskipun hanya diukur dari satu titik. Metode InSAR ini berguna jika ada suplai magma yang besar, sehingga orde deformasinya mampu terekam oleh satelit," ungkap Agus.

    Gunung Merapi masih berstatus siaga. BPPTKG tetap mengimbau masyarakat tetap tenang dan bersabar menghadapi aktivitas Gunung Merapi ini.

    (DEN)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id