comscore

BMKG: Malang Raya Masuk Kategori Rawan Bencana Hidrometeorologi

Daviq Umar Al Faruq - 21 Mei 2022 16:25 WIB
BMKG: Malang Raya Masuk Kategori Rawan Bencana Hidrometeorologi
Ilustrasi banjir. Dok: BNPB
Malang: Wilayah Malang Raya (Kabupaten Malang, Kota Malang, dan Kota Batu), Jawa Timur, disebut rawan terdampak bencana hidrometeorologi saat turun hujan ekstrem. Berdasarkan data BMKG Karangploso pada 15 Maret dan 19 Maret 2022, hujan lebat lebih dari 100 milimeter selama 2-3 jam merendam sebagain besar wilayah Kota Malang.

“Bila direnungkan, hujan hanya sebentar tapi dampaknya luar biasa. Semua harus menindaklanjuti sesuai kapasitas masing-masing untuk mengerem dampak perubahan iklim,” kata Koordinator Bidang Observasi dan Informasi BMKG Stasiun Klimatologi Malang, Ahmad Luthfi, pada webinar bertema Adaptasi Perubahan Iklim, Petaka Tata Ruang dan Bahaya Hidrometeorologi di Malang Raya, Sabtu 21 Mei 2022.
Luthfi menerangkan bencana hidrometeorologi merupakan bencana alam yang sudah terjadi sejak ratusan tahun lalu. Bisa berdampak pada korban jiwa, kerusakan harta, dan sebagainya. Masyarakat harus mengenali kondisi sekitar untuk meminimalisasi dampak bencana.

“Masyarakat juga harus dilatih dan melatih diri untuk mengurangi dampak bencana,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala UPT Pengelolaan Limbah Air Domestik (PLAD) DPUPRKP Kota Malang, Arif Darmawan, mengatakan isu perubahan iklim sangat penting untuk diperhatikan lantaran sudah menjadi tantangan global tanpa mengenal batas administrasi. Berdasarkan Indeks Risiko Provinsi Jatim 2015-2021, Kota Malang termasuk kategori merah terkait berbagai bencana, seperti banjir. 

“Karena itu kami mengajak seluruh masyarakat turut berperan dalam penanggulangan bencana,” ujar Arif.

Baca: Waspada! Gelombang Tinggi di Sejumlah Perairan Indonesia

Ia menambahkan Pemkot Malang memiliki beberapa strategi adaptasi perubahan iklim melalui beberapa program. Seperti memperluas ruang terbuka hijau (RTH), pengembangan urban farming di semua wilayah, perbaikan sistem drainase, hingga rutin memperoleh data dari BMKG sebagai bahan penguatan ketangguhan bencana.

“Kami jadikan masyarakat sebagai subjek dalam penangulangan bencana,” terangnya.

Sedangkan, Manager Kampanye dan Jaringan Masyarakat Wahana Lingkungan Hidup Indonensia (Walhi) Jatim, Lila Puspitaningrum, menuturkan pihaknya menyoroti perubahan tata ruang yang terjadi di Malang Raya. Di Kota Batu banyak alih fungsi sebagai wisata dan industri ekstrataktif.

Termasuk rencana pembangunan dua energi panas bumi yang yang dinilai tak ramah lingkungan karena berpotensi menimbulkan ledakan gas. Begitu juga dengan tata ruang Kota Malang.

Tak ada orientasi pembangunan berkelanjutan, melainkan lebih berorientasi keuntungan jangka pendek. Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Malang menyebutkan 60 persen diperuntukkan social budaya dan 40 persen untuk ekonomi.

“Tapi fakta di lapangan menunjukkan sebaliknya, kepentingan ekonomi jauh lebih besar,” kata Lila.

(NUR)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id