13 Tahun Menabung, Niat Sri Pergi Haji Tertunda

    Ahmad Mustaqim - 03 Juni 2020 15:45 WIB
    13 Tahun Menabung, Niat Sri Pergi Haji Tertunda
    Sri Rochani Kismojo menunjukkan berkas pelunasi biaya haji. Medcom.id/ahmad mustaqim
    Sleman: Impian Sri Rochani Kismojo untuk berangkat ke Tanah Suci tahun ini harus ditunda setalah pemerintah memutuskan tidak memberangkatkan calon jemaah haji di tengah pandemi covid-19 (korona). Padahal, Sri harus menunggu sejak tahun 2007 untuk mendapatkan daftar keberangkatan jemaah haji.

    Sri meneteskan air mata saat menceritakan keinginannya pergi haji tahun ini. Perempuan 73 tahun ini sempat putus asa hendak membatalkan ibadah haji.

    Dia mulai mendaftar haji pada 2007 silam, sejak dirinya pensiun dari PNS di Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi DIY 2003. Sri lantas mulai menyisihkan uang pensiunan untuk tabungan haji. 

    "Setiap bulan saya usahakan sisihkan uang, Rp200 ribu atau Rp300 ribu. Pernah Rp500 ribu tapi jarang," kata Sri ditemui di rumahnya Jalan Tawes III/11, RT5, Desa Minomartani, Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Rabu, 3 Juni 2020. 

    Perempuan 73 ini tak mudah untuk bisa mendaftar haji. Ia harus menghadapi dilema saat suaminya jatuh sakit. Namun, suaminya tetap memintanya berangkat haji. 

    "Saya maunya berangkat berdua dengan suami. Saya tak tega suami sakit, akhirnya meninggal," kisahnya. 

    Setelah suaminya meninggal, Sri membulatkan tekat untuk kembali mendaftar haji pada 2011. Belum genap setahun mendaftar, ia berpikir untuk kembali membatalkan niatnya.

    Baca: Pasrah, Hawa Besi Kecewa Batal Naik Haji

    "Dulu mikir, sembilan tahun apa saya masih diberi hidup. Lalu saya tanya ke guru ngaji, kalau uang saya tarik diganti untuk umrah bagaimana. Saya takutnya belum kesampaian sudah dipanggil (meninggal). Tapi saya diyakinkan untuk lanjut," kata dia. 

    Selain masalah itu, tabungannya terpakai saat anaknya hendak menikah. Perlahan, Sri bisa memenuhi setoran awal dana haji sebesar Rp25 juta. Pada 23 Maret 2020, ia melunasi kekurangan biaya pemberangkatan ibadah haji (BPIH) sekitar Rp10,5 juta. Total, BPIH yang telah Sri lunasi, yakni Rp35,9 juta. 

    "Akhir Februari kemarin dapat info untuk melunasi. Jadi bulan Maret saya lunasi kekurangan biayanya," kata dia. 

    Biaya lunas, Sri sudah memastikan dirinya layak berangkat haji tahun ini. Ia sudah melewati proses latihan manasik haji, hingga tiga rangkaian tes kesehatan yang dilakukan di Rumah Sakit Condongcatur, Puskesmas Ngaglik, dan RSUD Sleman. 

    Namun, harapannya berangkat haji tahun ini pupus. Pemerintah Indonesia memutuskan tak memberangkatkan jemaah haji ada 2020 karena penyebaran virus korona belum usai. 

    Sri mengaku kecewa dengan penundaan haji itu. Meskipun, ia berusaha berlapang dada. "Awalnya kecewa. Saya berdoa, Ya Allah, berikan saya yang terbaik. Berangkat atau gak pasrah. Walau kecewa tapi bersyukur. Mungkin harus bersabar," kata dia. 

    Sri sangat berharap dirinya bisa berangkat haji tahun depan. Ia ingin memenuhi syarat menjalani rukun islam ke lima, ibadah haji bagi yang mampu. 

    "Saya merasa banyak dosa. Semoga saya tahun depan bisa diberangkatkan. Saya akan meminta ampun kepada Allah supaya kami dan keluarga bahagia," ujarnya. 




    (WHS)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id