Kisah Warga Berdayakan IRT dan Ekspor Kerajinan ke Eropa

    Ahmad Mustaqim - 03 Desember 2019 18:30 WIB
    Kisah Warga Berdayakan IRT dan Ekspor Kerajinan ke Eropa
    Sejumlah perempuan di Desa Ngeposari, Kecamatan Semanu, Kabupaten Gunungkidul, yang membuat kerajinan dari eceng gondok, Selasa, 3 Desember 2019. Medcom.id/Ahmad Mustaqim
    Gunungkidul: Sejumlah perempuan terlihat sibuk menganyam di sebuah rumah Dusun Kangkung B, Desa Ngeposari, Kecamatan Semanu, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Mereka menganyam kerajinan berbahan dasar eceng gondok untuk diekspor ke sejumlah negara di Eropa.

    Kegiatan menganyam ini diwujudkan menjadi beragam barang, kebanyakan untuk perlengkapan rumah tangga. Ada ratusan ibu rumah tangga (IRT) yang ikut memproduksi. 

    "Ibu-ibu yang ikut mengerjakan ini ada di dua dusun, Dusun Kangkung B dan Dusun Keblak," kata Rasidha, seorang penggagas usaha kerajinan dari eceng gondok, di Gunungkidul, Selasa, 3 Desember 2019. 

    Ridho begitu Rasidha biasa disapa, mengatakan dirinya memulai usaha pada 2002 silam. Ia melihat potensi kemampuan perempuan di desa tersebut untuk membuat tikar mendong. 

    "Saya berfikir, ini masuk jika dikembangkan dan diganti bahan menggunakan enceng gondok," kata lelaki asal Cirebon, Jawa Barat ini. 

    Dalam memulai usahanya, Ridho harus bekerja keras untuk bisa memasarkan karya kerajinan itu. Baru lima tahun berselang berbagai kerajinan itu bisa diterima pasar. 

    Upaya lelaki 48 tahun ini tak sia-sia. Ia mampu memberdayakan ratusan ibu rumah tangga di Desa Ngeposari. Ia memperkirakan ada sekitar 300 IRT yang memproduksi kerajinan. "Ada sebagian warga dari luar Desa Ngeposari yang juga ikut buat kerajinan," kata pria berusia 48 tahun ini.

    Ekspor ke Australia dan Eropa

    Menurut Ridho, hasil kerajinan eceng gondok itu diminati oleh berbagai warga di luar negeri. Pasar yang sudah didapatkan yakni di Australia. Selain itu ada sejumlah negara di benua Eropa yang menjadi tujuan ekspor.

    Dari berbagai bentuk kerajinan, yang paling dominan diminati yakni keranjang. Keranjang ini biasa digunakan, seperti di eropa, untuk tempat kayu bakar perapian. Menurut Ridho, penjualan ke luar negeri lebih dominan dibanding domestik. 

    "Kalau (keranjang) rusak mungkin bisa langsung dibakar kan. Omzet usaha ini sudah di atas Rp120 juga per bulan," beber Ridho.

    Ia menyatakan tak mematok target dalam produksi. Ridho menyatakan pembuatan kerajinan dari enceng gondok hanya sebagai samping bagi IRT. Pihaknya mendatangkan bahan baku dari wilayah Jawa Tengah untuk produksi. 

    Topang Ekonomi

    Membuat kerajinan dari eceng gondok bisa membantu perekonomian keluarga. Seorang warga Dusun Kangkung B, Sri Handayani menuturkan, dirinya sudah sejak 2002 memproduksi kerajinan itu. Ia memperkirakan dalam sehari bisa menghasilkan uang sekitar Rp60 ribu. 

    "Bikin kerajinan yang hanya sampingan. Biasanya ke ladang, ya sama pekerjaan rumah seperti ibu-ibu biasanya," ujarnya. 

    Sri menjadi salah satu yang senior membuat kerajinan di kampungnya. Ia beberapa kali memberikan pendamping untuk perempuan di tempatnya untuk produksi kerajinan.



    (DEN)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id