comscore

Pabrik Rokok Elektrik Pertama di Indonesia Diresmikan di Malang

Daviq Umar Al Faruq - 30 Juni 2022 22:35 WIB
Pabrik Rokok Elektrik Pertama di Indonesia Diresmikan di Malang
Peresmian fasilitas produksi rokok elektrik asal Tiongkok, PT Smoore Technology Indonesia (STI) di Desa Banjararum, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Kamis 30 Juni 2022. Medcom.id/ Daviq Umar Al Faruq
Malang: Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Bahlil Lahadalia menghadiri peresmian fasilitas produksi rokok elektrik asal Tiongkok, PT Smoore Technology Indonesia (STI) di Jalan Perusahaan nomor 46, Desa Banjararum, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, Jawa Timur.

Pabrik rokok elektrik yang dibangun dengan luas tanah 6 hektare tersebut merupakan pabrik ke-14 yang dibangun oleh Smoore International dengan rencana investasi sebesar USD80 juta atau Rp1,12 triliun.
‘’Kita harus terlebih dahulu memberikan ucapan selamat kepada PT Smoore Technologi Indonesia. Memproduksi rokok elektrik yang baru pertama di Indonesia," kata Bahlil Lahadalia di Malang, Kamis, 30 Juni 2022.
 
Baca: Pengaturan Batasan Produksi Rokok Dinilai Masih Longgar

Bahlil menjelaskan pabrik rokok elektrik ini mampu menciptakan lapangan pekerjaan yang menampung kurang lebih 3 ribu orang. Ia menambahkan pabrik kolaborasi antara investasi China dan Indonesia ini memiliki target market langsung ke Amerika, sehingga basisnya ekspor dan mampu memberikan pendapatan untuk negara.

"Saya juga bersyukur bapak Wakil Bupati Malang, melakukan tindakan percepatan. Pemerintah Kabupaten Malang responnya cepat sekali, dalam waktu tujuh bulan, pabrik ini sudah bisa selesai,” jelasnya.

Bahlil berharap PT Smoore Technologi Indonesia bisa melakukan ekspansi, dengan membangun pabrik yang sama. Sebab, dengan market luar negeri, keberadaan pabrik dinilai mampu menambah devisa negara dan akan memperbaiki neraca perdagangan Indonesia.

"Neraca perdagangan antara ekspor dan impor masih surplus. Tetapi untuk pertumbuhan ekonomi di kuarter pertama itu 51 persen, kontribusi lebih banyak konsumsi dan investasi. Karena ke depan market Indonesia ini ada, daripada dibanjiri dengan impor, lebih baik membangun industrinya dalam negeri selama memenuhi syarat-syarat dan aturan yang ada," ungkapnya.

 

(DEN)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id