Pakar ITB: Petir Memungkinkan Jadi Penyebab Kebakaran Tangki Kilang Balongan

    Antara - 02 April 2021 22:23 WIB
    Pakar ITB: Petir Memungkinkan Jadi Penyebab Kebakaran Tangki Kilang Balongan
    Petugas Pertamina saat melakukan pendinginan pada salah satu tangki di Kilang Balongan. Foto: Dok Pertamina



    Jakarta: Kepala Pusat Penelitian Petir (Lightning Research Center/LRC) Sekolah Teknik Elektro & Informatika (STEI) Institut Teknologi Bandung (ITB) Reynaldo Zoro menyebutkan petir memungkinkan menjadi penyebab terbakarnya tangki Kilang Balongan, Indramayu, Jawa Barat. Terlebih, petir tropis memiliki kekuatan lebih besar dibandingkan petir subtropis. 

    Petir tropis memiliki sambaran tinggi, amplitudo besar, gelombang sangat curam. Impulse force-nya bisa mengancurkan dan muatan arus petir jauh lebih besar.






    "Sebenarnya, tangki-tangki Pertamina memenuhi standar pengamanan. Hanya, karena petir tropis memang sangat kuat, bisa membuat tangki berlubang," ujarnya seperti dikutip dari Antara, Jumat, 2 April 2021.

    Dan ketika tangki berlubang, lanjutnya, ada memungkinkan terbakar karena tiga komponen penyebab kebakaran adalah spark yang berasal dari petir, bahan bakar, dan oksigen. Tadinya oksigen tidak ada. Tetapi ketika tangki bolong, jelasnya, maka ada ruang untuk oksigen.

    Zoro juga menyebut secara historis banyak kebakaran tangki kilang yang disebabkan sambaran petir. Salah satunya kilang di Malaysia.

    "Saking banyaknya, sampai pernah dibukukan. Dalam buku tersebut dijelaskan mengenai tangki kilang yang pernah terbakar akibat petir. Termasuk di kilang Malaysia," katanya.

    Terkait penyataan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang mengatakan petir tidak terjadi di daerah sekitar Balongan pada saat kebakaran tangki Pertamina, menurut Zoro, informasi itu terlalu dini. Dia menilai, lightning detector milik BMKG kurang akurat untuk melakukan evaluasi detail karena lebih banyak mendeteksi ke arah cuaca.

    Menurut dia, terdapat dua hal penting untuk melakukan evaluasi mengenai lightning detection system, yakni local accuration dan detection efficiency. "Kalau mau evaluasi, kita harus menggunakan data yang baik dan alat yang canggih. Kalau peralatan BMKG itu agak berbeda," katanya.

    Zoro mengungkapkan data satelit Himawari yang dikenal sangat akurat menyatakan bahwa di sekitar Balongan sekitar pukul 00.00-03.00 WIB, terjadi pergerakan badai petir. "Bahkan, menurut pengamatan Himawari, dari sore sampai pukul 05.00 pagi, konsentrasi petir tertinggi justru berada pada waktu yang diklaim BMKG," katanya.

    Sedangkan, hasil monitoring lighting detector BMKG, kerapatan petir sekitar pukul 00.00- 02.00 WIB justru berkumpul pada bagian barat kilang minyak Balongan atau sejauh kurang lebih 77 kilometer.

    (UWA)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id