Angka Stunting di Kota Bogor Diklaim Menurun

    Rizky Dewantara - 07 Februari 2020 15:09 WIB
    Angka <i>Stunting</i> di Kota Bogor Diklaim Menurun
    Tim medis Rumah Sakit Indriati Solo Baru, Sukoharjo, jawa Tengah, memberikan sosialiasasi pemberian gizi bayi untuk mencegah kegagalan tumbuh kembang anak (stunting) . (Foto: ANTARA/Maulana Surya)
    Bogor: Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor, Jawa Barat, mengeklaim jumlah balita menderita stunting menurun setiap tahun. Angka penurunan terpantau dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas), Pemantauan Status Gizi (PSG), dan Badan Penimbangan Balita (BPB) Kementerian Kesehatan.

    "Kota Bogor tidak termasuk lokus stunting. Tapi dari data stunting hasil pengukuran pada BPB di Kota Bogor, persentasenya turun dari 6,58 persen pada 2017 menjadi 4,52 persen di 2019," ungkap Wakil Wali Kota Bogor, Dedie Rachim, Jum'at, 7 Februari 2020.

    Dedie mengaku, pendataan stunting di Kota Bogor dimonitor melalui Elektronik Pencatatan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (e-PPGBM). Pihaknya juga mendata nama dan alamat anak yang mengalami kekurangan gizi kronis di Kota Bogor.

    "Pemkot Bogor mendata by name by address dan dijadikan dasar intervensi stunting. Kami pun menetapkan 10 kelurahan sebagai lokus stunting untuk menjadi wilayah prioritas penanggulangan stunting," jelas dia.

    Dedie menegaskan Pemkot Bogor telah melakukan berbagai strategi menekan angka stunting. Seperti, sinergitas terpadu antarlembaga, terutama dari unsur pemerintah, masyarakat atau komunitas, akademisi, pengusaha, dan media.

    "Kemudian berjenjang. Dilakukan dari tingkat kota, kecamatan, kelurahan, sampai RW dan pendekatan continum of care kelompok umur sasaran. Pendekatan ini pada semua kelompok umur. Mulai dari remaja, calon pengantin, ibu hamil, bayi, balita, dan anak sekolah," paparnya.

    Masih kata dia, dalam penanggulangan stunting, Pemkot Bogor juga mencanangkan lima pilar kebijakan strategis pangan dan gizi. Antara lain, perbaikan gizi masyarakat, peningkatan aksesibilitas pangan yang beragam, mutu dan keamanan pangan, perilaku hidup bersih dan sehat, serta sanitasi dasar dan jaminan kesehatan.

    "Pilar terakhir, koordinasi pembangunan pangan dan gizi. Jadi percepatan penanggulangan stunting dilaksanakan dengan sinergitas seluruh stakeholder terkait secara terpadu, berjenjang dan dilakukan dengan pendekatan siklus hidup (continuum of care)," pungkas dia.





    (MEL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id