comscore

Menjaga Toleransi 3 Umat Agama di Dusun Jamuran Malang

Daviq Umar Al Faruq - 09 Juni 2022 13:11 WIB
Menjaga Toleransi 3 Umat Agama di Dusun Jamuran Malang
Selamatan Bersih Desa di Dusun Jamuran, Desa Sukodadi, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Medcom.id/ Daviq Umar Al Faruq
Malang: Warga yang tinggal di Dusun Jamuran, Desa Sukodadi, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang, Jawa Timur, memiliki toleransi yang tinggi terhadap perbedaan agama.

Pasalnya tiga umat beragama yang tinggal di kawasan tersebut hidup berdampingan dan saling menjaga ketentraman.
Suasana toleransi antar umat beragama ini begitu terasa saat gelaran Selamatan Bersih Desa di Dusun Jamuran pada 5-9 Juni 2022. Rangkaian agenda tahunan ini diawali dengan acara ibadah dari tiga umat agama yakni Nasrani, Hindu, dan Islam.

"Bersih desa ini adalah nglururi adat. Jadi adat yang sudah lama, yang sudah diadakan oleh sepepuh-sesepuh dan pendahulu-pendahulu kita. Kita awali dengan doa dari antar umat beragama, dan masing-masing agama yang ada di Jamuran," kata Ketua Panitia Selamatan Bersih Desa Dusun Jamuran, Andi Dumadi, Rabu, 8 Juni 2022.

Baca: Ende, Inspirasi Moderasi Beragama Bagi Guru dan Siswa Madrasah

Usai ibadah antar umat, kegiatan dilanjutkan dengan penampilan berbagai atraksi kesenian khas Dusun Jamuran. Mulai dari hiburan musik, kesenian kuda lumping, kesenian pencak silat, seni tari dan karawitan atau gending-gending klasik.

Puncak dari kegiatan bersih desa ini adalah acara Kenduri atau Barik'an dan tari Remo Gending Adat. Bersih desa di Dusun Jamuran kemudian ditutup dengan acara hiburan seni Tayub.

"Karena pandemi sudah mulai reda kita mengulang kegiatan tahun 2019 lalu. Dua tahun terakhir, 2020-2021 ada kegiatan, tapi cuma kenduri sama tayub cuma lima gending dibawah. Setelah itu sudah nggak ada kegiatan," jelas Andi.

Menurut dia kegiatan bersih desa ini diselenggarakan setiap Bulan Selo atau Dzulqodah, jika merujuk pada penanggalan Jawa kuno. Bulan Selo sendiri diyakini sebagai bulan apit atau bulan yang terhimpit antara dua bulan besar, yaitu Bulan Syawal dan Bulan Dzulhijjah.

Sehingga pada Bulan Selo, biasanya masyarakat Jawa menggelar bersih desa, sedekah bumi hingga tradisi-tradisi lainnya. Tahun ini, Bulan Selo atau yang juga dikenal sebagai Bulan Longkang ini jatuh pada Juni.

"Pelaksanaan bersih desa itu setiap Bulan Selo, dan harinya ada dua sebenarnya, kalau nggak Senin Legi ya Kamis Legi. Tahun ini Bulan Selo di bulan Juni," ungkap Andi.

Selama rangkaian kegiatan bersih desa, panitia juga menyediakan lapak untuk Para Pedagang Kaki Lima (PKL) berjualan. Berbagai macam makanan dijajakan seperti kerak telur, seblak, gorengan, papeda, aneka ikan laut, es jeruk dan sebagainya.

"Yang berjualan campur. Ada yang warga sini, ada PKL dari luar daerah. Jadi kami membuka untuk umum. Data kami ada sekitar 30 UMKM," bebernya.

Toleransi Beragama Kuat

Dusun Jamuran merupakan sebuah dusun yang berlokasi di kaki Gunung Kawi tepatnya di lereng sebelah timur. Selain memiliki keindahan alam, dusun ini juga dikenal memiliki toleransi antar umat beragama yang cukup kuat.

Ada tiga umat beragama yang tinggal di Dusun Jamuran, yakni umat Nasrani, Hindu dan Islam. Meski berbeda, ketiga penganut agama ini hidup saling bergandengan, harmonis serta mampu mempertahankan kerukunan.

Andi yang telah 44 tahun tinggal di Dusun Jamuran mencontohkan salah satu sikap toleransi yang selalu ditunjukkan oleh warga di dusunnya adalah saat masing-masing umat memperingati hari raya atau hari besar keagamaan.
 
Misalnya saat peringatan Hari Raya Idulfitri yang dirayakan umat Islam. Saat salat Id, umat Hindu dan Nasrani akan berkumpul di masjid untuk menjaga keamanan. Bahkan, saat siang hingga malam harinya, mereka ikut berkeliling mengunjungi rumah-rumah umat Muslim untuk bersilaturahmi.

"Itu sudah menjadi agenda rutin, sudah tanpa dikomando pasti bergerak. Begitu juga sebaliknya ketika Nasrani Natalan, semua warga kumpul semua menjaga Gereja. Sama juga ketika umat Hindu merayakan Nyepi," ungkap Andi.

Sikap toleransi antar umat beragama tidak hanya terlihat saat perayaan hari besar keagamaan saja. Namun juga dalam kehidupan sehari-hari, serta saat kegiatan dusun seperti Selamatan Bersih Desa.

"Saling membantu dan saling bekerjasamanya luar biasa. Ini untuk lebih mengakrabkan lagi di masing-masing lingkungan," ujarnya.

Berdasarkan sejarah yang diketahui Andi, warga asli di Dusun Jamuran merupakan umat Hindu. Kemudian seiring berjalannya waktu, datang umat Nasrani dan Islam hingga ikut menjadi umat mayoritas di dusun tersebut.

"Kalau menurut data warga dusun, hanya tiga agama itu. Tapi belum termasuk warga perumahan baru. Untuk umat Budha dan Khonghucu itu mungkin di perumahan-perumahan ada, tapi kalau di warga masyarakat asli nggak ada," ujar Andi.

(DEN)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id