Campur Tangan Sindikat Internasional di Kedatangan Pencari Suaka

    Mulyadi Pontororing - 26 Maret 2018 14:48 WIB
    Campur Tangan Sindikat Internasional di Kedatangan Pencari Suaka
    Ilustrasi. Medcom.id/M Rizal
    Manado: Kepala Keimigrasian Sulawesi Utara Dodi Karnida menduga ada campur tangan sindikat penyelundupan manusia jaringan internasional yang mengatur kedatangan pencari suaka di Indonesia. Banyak keganjilan dalam sejumlah kasus pencari suaka.

    Misalnya, kedatangan ibu dan anak yang mengaku warga negara Afghanistan dan bertujuan mencari pengungsi di Manado.

    "Memang alasan mereka hendak mengikuti sang suami yang telah lebih dulu menjadi pengungsi dan tinggal di Rudenim Manado, namun ada kejanggalan terkait dengan kedatangan mereka setelah dilakukan pemeriksaan," terang Dodi, Senin, 26 Maret 2018, di Manado.

    Keterangan mereka yang mengaku  berangkat dari Afganistan, selanjutnya ke India, kemudian ke Jakarta melalui Kuala Lumpur dengan pesawat terbang. Namun berdasarkan data keimigrasian, mereka pernah tinggal selama tujuh hari di Jakarta sebelum terbang ke Manado.

    (Baca: Imigrasi Manado Pindahkan 81 Pengungsi ke Pekanbaru)

    Dokumen yang mereka gunakan ketika membeli tiket dan check-in untuk terbang ke Manado juga tak jelas. Tidak ditemukan pula bukti pembanding yang menyatakan mereka WN Afganistan.

    "Tentu saja ini ada yang mengatur dan terhadap hal ini kami harus lebih berkoordinasi lagi dengan instansi terkait. Termasuk dengan unsur penerbangan agar tidak terjadi banjir pengungsi ke Manado sebagaimana pernah terjadi pada tahun 2014-2015 yang lalu," tandas Dodi.

    (Baca: Telantar di RI, Pencari Suaka asal Sudan Minta Bantuan UNHCR)

    Jumlah WNA yang berstatus pengungsi di Manado mencapai 40 orang dan 16 orang pencari suaka. Mereka masih belum lulus dari verifikasi UNHCR sebagai pengungsi.

    "Sedangkan detainee lainnya di Rusdenim Manado berjumlah 15 orang WN Filipina laki-laki pelaku pelanggaran keimigrasian termasuk 11 orang yang baru dipindahkan dari Kanim Tahuna yang salah satunya ialah eks narapidana penangkapan ikan ilegal," pungkasnya.



    (SUR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id