Peraturan Dewan Pers

    METODOLOGI CEK FAKTA

    Kanal Cek Fakta merupakan ikhtiar Medcom.id untuk turut ambil bagian dalam pemberantasan hoaks, disinformasi, hingga ujaran kebencian melalui pelintiran informasi yang banyak ditemukan di media sosial.

    Cek Fakta Medcom.id menerapkan alur kerja terukur sesuai dengan standar pemeriksaan fakta. Kami juga menggunakan banyak tools atau alat pendeteksi klaim untuk memeriksa dan mengukur kevalidan sebuah kabar atau informasi.

    Kami bekerja berdasarkan klaim dari setiap informasi terndikasi hoaks yang beredar di masyarakat media sosial, dan aplikasi layanan pesan. Kami juga menerima laporan klaim dari pembaca yang disampaikan melalui surel: cekfakta@medcom.id.

    Kami megutamakan pemeriksaan fakta pada isu-isu yang menyangkut kepentingan publik, dan hal-hal yang bersifat mendesak. Selain menyediakan hasil pemeriksaan fakta secara reguler, kami juga membuat artikel edukasi seputar dunia pemeriksaan fakta dan rangkuman hasil pemeriksaan fakta di akhir pekan.

    Secara spesifik, ada tujuh jenis informasi palsu yang bisa dikenali melalui ragam dan cirinya yang berbeda-beda. Merujuk First Draft, sebuah organisasi nirlaba yang mendukung jurnalis, akademisi, dan teknolog dalam upaya pemberantasan hoaks di era digital memasukkan ketujuh jenis informasi palsu itu ke dalam dua kategori besar. Yakni, disinformasi dan misinformasi.

    Berikut adalah 7 jenis misinformasi dan isinformasi terebut:

    1. Satire atau parodi

      Konten jenis ini biasanya tidak memiliki potensi atau kandungan niat jahat, namun bisa mengecoh.

      Satire merupakan konten yang dibuat untuk menyindir pada pihak tertentu. Kemasan konten berunsur parodi, ironi, bahkan sarkasme. Secara keumuman, satire dibuat sebagai bentuk kritik terhadap personal maupun kelompok dalam menanggapi isu yang tengah terjadi.

      Sebenarnya, satire tidak termasuk konten yang membahayakan. Akan tetapi, sebagian masyarakat masih banyak yang menanggapi informasi dalam konten tersebut sebagai sesuatu yang serius dan menganggapnya sebagai kebenaran.

    2. Misleading Content (konten menyesatkan)

      Misleading terjadi akibat sebuah konten dibentuk dengan nuansa pelintiran untuk menjelekkan seseorang maupun kelompok. Konten jenis ini dibuat secara sengaja dan diharap mampu menggiring opini sesuai dengan kehendak pembuat informasi.

      Misleading content dibentuk dengan cara memanfaatkan informasi asli, seperti gambar, pernyataan resmi, atau statistik, akan tetapi diedit sedemikian rupa sehingga tidak memiliki hubungan dengan konteks aslinya.

    3. Imposter Content (konten tiruan)

      Imposter content terjadi jika sebuah informasi mencatut pernyataan tokoh terkenal dan berpengaruh. Tidak cuma perorangan, konten palsu ini juga bisa berbentuk konten tiruan dengan cara mendompleng ketenaran suatu pihak atau lembaga.

    4. Fabricated Content (konten palsu)

      Fabricated content terbilang menjadi jenis konten palsu yang paling berbahaya. Konten ini dibentuk dengan kandungan 100% tidak bisa dipertanggung-jawabkan secara fakta. Biasanya, fabricated content berupa informasi lowongan kerja palsu dan lain-lain.

    5. False Connection (koneksi yang salah)

      Ciri paling gamblang dalam mengamati konten jenis ini adalah ditemukannya judul yang berbeda dengan isi berita. Konten jenis ini biasanya diunggah demi memperoleh keuntungan berupa profit atau publikasi berlebih dari konten sensasional.

    6. False Context (konteks keliru)

      False context adalah sebuah konten yang disajikan dengan narasi dan konteks yang salah. Biasanya, false context memuat pernyataan, foto, atau video peristiwa yang pernah terjadi pada suatu tempat, namun secara konteks yang ditulis tidak sesuai dengan fakta yang ada.

    7. Manipulated content (konten manipulasi)

      Manipulated content atau konten manipulasi biasanya berisi hasil editan dari informasi yang pernah diterbitkan media-media besar dan kredibel. Gampangnya, konten jenis ini dibentuk dengan cara mengedit konten yang sudah ada dengan tujuan untuk mengecoh publik.

    Cek Fakta Medcom.id juga berjejaring dengan aliansi pemeriksa fakta CekFakta.com, yakni sebuah proyek kolaborasi antarmedia yang mempunyai misi khusus melawan maraknya penyebaran hoaks.

    CekFakta.com diluncurkan pada peringatan Hari Kebebasan Pers Sedunia pada 5 Mei 2018, oleh 22 media online dan Masyarakat Antifitnah Indonesia (Mafindo). Proyek ini juga didukung oleh Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI), Aliansi Jurnalis Independen (AJI), Google News Initiative (GNI), Internews dan Firstdraft.

    Format Penulisan Laporan Cek Fakta

    1. Latar belakang

    - Berisi narasi penyebaran informasi terindikasi hoaks termasuk siapa pertama kali yang menyebar, kapan disebarnya, melalaui apa (platform media sosial, blog, website, pesan berantai melalui aplikasi percakapan, laporan masyarakat, dll),

    - Penyebar klaim dicetak tebal (bold) jika penyebaran klaim melalui platform media sosial

    -Berisi klaim hoaks (Dikutip apa adanya, tidak dianjurkan mengoreksi kalimat klaim) untuk kepentingan autentikasi

    -Klaim ditulis dengan tanda petik ("klaim") dan cetak miring

    -Melampirkan tangkapan layar penyebar hoaks dan membuat arsip link

    2. Penelusuran

    -Membuktikan kebenaran klaim

    -Diutamakan dari sumber primer (situs resmi). Berasal dari media arus utama, terkhusus dari media-media yang tergabung dalam kolaborasi cekfakta.com

    -Pembuktian mandiri

    3. Kesimpulan

    -Hasil pemeriksaan klaim

    -Kategorisasi jenis hoaks yang diperiksa (https://www.medcom.id/telusur/cek-fakta/4KZ6rAqK-mengenal-7-jenis-hoaks)

    4. Referensi

    -Kumpulan link counter

    BIOGRAFI TIM CEK FAKTA

    Whisnu Mardiansyah

    Lulusan dari Hubungan Internasional UIN Jakarta ini tergabung di dalam tim Cek Fakta Medcom.id sebagai editor. Telah berkarir sebagai jurnalis sejak 2015, di berbagai kanal nasional. Bergabung di tim cek fakta sejak tahun ini 2020. Selama berkarir sebagai jurnalis, banyak bergelut di isu-isu nasional seperti politik dan hukum dan kebencanaan selama lima tahun terakhir.

    M Rodhi Aulia

    Mengawali karir sebagai jurnalis pada awal 2014 di situs Metrotvnews.com . Ia banyak meliput peristiwa-peristiwa besar di Indonesia. Khususnya di bidang politik, hukum dan keamanan. Selain itu juga pernah ditugaskan di kanal indepth. Ia melakukan tugas-tugas semi investigasi terkait berbagai isu sensitif. Kini bergabung di kanal cek fakta yang sehari-hari meneliti isu terindikasi hoaks dan kemudian memeriksa isu tersebut, merangkai menjadi artikel cek fakta dan mempublikasikannya di Medcom.id

    Wanda Indana

    Tergabung di dalam tim Cek Fakta Medcom.id sebagai pengampu kanal. Telah tersertifikasi uji kompetensi wartawan oleh Dewan Pers dan telah mengikuti beberapa pelatihan, termasuk pelatihan program anti-hoaks dari Google News Initiative. Memulai karir di industri media sejak 2014, Wanda Indana banyak melakukan peliputan berbagai isu. Pernah ditugaskan di kanal indepth untuk melakukan tugas-tugas investigasi dan kini tergabung dalam anggota Klub Jurnalis Investigasi (KJI).