Card 1 of 7  

Wajah Indonesia di Balik Peristiwa Bencana

03 Januari 2019 17:05
Warga melintas di lokasi bencana pencairan dan pergeseran tanah
Warga melintas di lokasi bencana pencairan dan pergeseran tanah (likuifaksi) di Kelurahan Balaroa Palu, Sulawesi Tengah. (Foto: ANTARA/Basri Marzuki)
Jakarta: Jika situasi politik diwarnai dengan kegaduhan-kegaduhan sebagaimana terjadi di media sosial, beberapa bencana justru telah mempersatukan bangsa. Kendati menyakitkan, faktanya peristiwa bencana mampu merekatkan berbagai elemen bangsa sampai ke tingkat yang menggetarkan hati.

Gempa di Lombok, Nusa Tenggara Barat kemudian gempa, tsunami, serta likuefaksi di Palu, Sigi, dan Donggala, Sulawesi Tengah, tak saja merenggut ribuan nyawa tetapi juga menimbulkan kerusakan masif. Tetapi pada saat yang sama ribuan relawan tanpa pamrih menolong korban.

"Mereka bahu-membahu bersama Basarnas dan aparat lain kembali ke wilayah yang rusak parah untuk memberi pertolongan, sementara jutaan dermawan dengan ringan urun sumbangan dengan hati yang ikhlas," tutur Jurnalis Senior Metro TV Don Bosco Selamun dalam Catatan Akhir Tahun 2018, Selasa, 2 Januari 2018.

Masih hangat di ingatan ketika 22 Desember 2018 pukul 21.27 WIB tsunami menerjang Selat Sunda. Gelombang tsunami bergulung-gulung menyapu pesisir pantai Banten dan Lampung Selatan tanpa tanda dan suara. Dengan cepat air datang menghantam tanpa ampun hingga korban berjatuhan terseret arus ataupun tertimpa reruntuhan bangunan dalam gelap malam.

Catatan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sampai 25 Desember 2018, sebanyak 429 orang meinggal, lebih dari 1.485 orang terluka, dan tak kurang dari 11 ribu orang mengungsi dalam peristiwa tersebut.

Dua bulan sebelumnya tiga bencana datang hampir bersamaan dalam rentang satu waktu yang  menghunjam Palu, Sigi, dan Donggala tepat di hari peringatan Sumpah Pemuda. Musibah itu pun meninggalkan penderitaan luar biasa pada masyarakat.

Dalam catatan BNPB, peristiwa tsunami, likuefaksi, dan gempa di Sulawesi Tengah mengakibatkan 2.101 korban tewas dengan jumlah terbanyak berada di Palu sebesar 1.727 jiwa diikuti oleh Sigi sebanayk 188 jiwa, Donggala 171 jiwa, dan Parigi Moutong serta Pasang Kayu sebanyak 16 jiwa. Kemudian 1.373 dinyatakan hilang baik karena tenggelam maupun likuefaksi, korban luka sebanyak 4.438 orang, dan 221.400 orang mengungsi akibat kehilangan tempat tinggal dengan nilai kerusakan mencapai Rp15,58 triliun.

Pada 29 Juli 2018 gempa berkekuatan 7 skala richter juga mengguncang Lombok, Nusa Tenggara Barat, yang getarannya dirasakan hingga Bali. Gempa bumi dangkal akibat pergerakan sesar naik Flores itu terus diikuti lebih dari 150 gempa susulan dengan interval yang saling berdekatan.

Guncanagn menimbulkan kerusakan cukup masif terutama di wilayah Lombok Utara. Sekali lagi BNPB mencatat 564 orang meninggal dan 1.584 terluka sedangkan 445.343 orang harus mengungsi akibat rumah rusak dan tak bisa dihuni lagi.

Seakan tak berhenti, pada 29 Oktober Lion Air PK-LQP JT610 rute Jakarta-Pangkal Pinang jatuh di perairan Karawang, Jawa Barat. Sebanyak 189 penumpang dan awak pesawat boeing 737 max 8 tewas.  

Sejumlah bencana yang mendera Nusantara membuat mata dunia terbelalak dan mengulurkan tangan tanpa henti dan tak terbatas suku, agama, bangsa, bahkan negara untuk membantu. Penggalangan dana yang dilakukan sejumlah lembaga pun direspon positif. Donasi yang didistribusikan pun tak hanya berwujud uang namun juga pangan hingga tempat tinggal untuk memastikan penyintas mampu bertahan hidup.

Di balik peristiwa-peristiwa itu yang tak kalah mengagumkan adalah kepedulian relawan yang memberikan tenaganya mencari korban di balik reruntuhan maupun di dasar perairan kendati mempertaruhkan nyawa. Ribuan relawan dari berbagai penjuru negeri berdatangan tanpa diminta.

Kondisi bandara yang rusak, pelabuhan hancur, jalan terputus, bahkan tanpa listrik dan penerangan dengan cuaca buruk dan ombak tinggi tak menyurutkan tekad para relawan untuk memberikan kontribusi. Tanpa takut mereka masuk ke wilayah yang luluh lantak akibat bencana dan merasakan langsung penderitaan yang dialami para korban.

Syachrul Anto seorang relawan penyelam Indonesia asal Makassar bahkan berhadapan dengan maut ketika melakukan penyelaman di perairan Karawang. Ia hilang kesadaran saat menyelam dalam misi operasi pencarian korban Lion Air PK-LQP akhir Oktober 2018 lalu.

Hingga napas terakhirnya Syachrul seakan menjelma menjadi mutiara relawan yang benar-benar berkoban demi Indonesia. Keberadaan Syachrul menjadi bukti Indonesia tak kekurangan manusia-manusia baik penebar kebaikan yang tidak pernah memperhitungkan untung rugi pada sesama.

Di tengah kegaduhan hoaks dan retorika politik, negeri ini tidak kekurangan manusia yang peduli terhadap sesama. Jauh melampaui batas kesukuan bahkan agama dan tidak berjarak.

"Inilah wajah sebenarnya Indonesia. Manusia sebenar-benarnya manusia yang mempertautkan berjuta perbedaan. Pengorbanan ribuan relawan dan jutaan dermawan melampaui sekat-sekat agama, suku, golongan, dan politik. Keterlibatan mereka sejatinya mempertemukan jatidiri kemanusiaan juga mempertautkan rasa ke-Indonesiaan kita," pungkas Don Bosco.


MEL

Card 1 of 7  

Aktifkan notifkasi untuk mendapatkan berita terkini dari medcom.id

Notifikasi dapat dimatikan kapanpun melalui pengaturan browser.

Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id