• DOMPET KEMANUSIAAN LOMBOK : Tanggal 22 SEP 2018 terkumpul RP 20.111.547.901

  Card 2 of 4  

Menghidupkan Sastrawan Muda Ala Balai Pustaka

Dhaifurrakhman Abas    •    29 Juni 2018 19:23
Sanggar Balai Pustaka di Ruang Hamka, Gedung Balai Pustaka,
Sanggar Balai Pustaka di Ruang Hamka, Gedung Balai Pustaka, Matraman, Jakarta Timur, Sabtu, 5 Mei 2018. (Medcom/Abas)
"Tak semua orangtua lupa. Bunga perjuangan tumbuh indah....” Sayup suara deklamasi terdengar saat kami tiba di kantor pusat Balai Pustaka, Jalan Bunga, Matraman, Jakarta Timur, Sabtu, 5 Mei 2018.

Suara pria itu kian jelas saat kami mendekat ke sebuah ruangan bernama Ruang Hamka.

Sebelum bersua dengan pemilik suara, langkah kami terhenti di teras ruangan. Sejenak perhatian kami tercuri puluhan remaja yang sedang berkegiatan seni.

Ada yang memainkan alat musik gitar, pianika, maupun gendang. Pula yang sibuk menulis not balok beserta lirik musikalisasi puisi diatas selembar kertas besar.





Suasana teras Ruang Hamka, Gedung Balai Pustaka, Matraman, Jakarta Timur. (Medcom/Abas)


Kini menjadi buah enak rasanya. Sampai hati bunga berkisah...."

Lantunan deklamasi tersebut melanjutkan langkah kami untuk masuk ke dalam Ruang Hamka.

Sesampainya di dalam, tampak lebih banyak lagi muda-mudi, termasuk lima laki-laki pembaca deklamasi yang tadi kami dengar. Tak lama, tepuk tangan penonton menutup aksi mereka.

Ruangan yang memiliki luas sekitar 10x7 meter itu juga dihiasi beragam alat musik tradisional. Ada Talempong, Gendang, Kendang Gemung serta perkusi lainnya.





Di Ruang Hamka inilah kami bertemu seorang instruktur yang juga Koordinator Sanggar Sastra Balai Pustaka, Irma Komala Syahni.

Irma tampak sibuk membimbing para remaja berlatih musikalisasi puisi, deklamasi, katalog dan teater. Dia lah alasan kami menyambangi Balai Pustaka pada sore itu.

“Ini (mereka) peserta didik Sanggar Sastra Balai Pustaka angkatan kedua,” bisik Irma ke telinga kami.

Sejatinya, kata Irma, banyak bakat sastra yang terpendam di kalangan muda. Sayangnya sedikit wadah untuk memcurahkan minat kesastraannya. Inilah salah satu alasan lahirnya Sanggar Sastra Balai Pustaka



Koordinator Sanggar Sastra Balai Pustaka Irma Komala Syahni. (Medcom/Abas)
 

Menabur bibit sastrawan muda

Pada awal Januari 2018, Balai Pustaka menggelar sayembara pelatihan penulisan puisi, juga membuka kelas penulisan prosa dan apresiasi sastra. Sekitar 100 orang dari berbagai usia dan latar pendidikan melibatkan diri.

“Mereka terdiri dari siswa pelajar SMP, SMA, Mahasiswa hingga guru,” ungkap Irma.

Ini bukan kali pertama. Setahun lalu acara serupa pernah digelar, bersamaan dengan diresmikannya Sanggar Sastra Balai Pustaka sekaligus memperingati hari jadi Balai Pustaka yang ke-100 tahun. Momentum itu melahirkan angkatan pertama Sanggar Sastra Balai Pustaka.

Selain bertujuan melestarikan sastra dan seni Indonesia, sanggar ini dibentuk untuk membiakkan bibit-bibit baru sastrawan muda Indonesia.

Mafhum, saat ini sarana pengembangan bakat sastra di Indonesia tergolong sedikit. Sebaliknya, banyak bakat-bakat kesastraan di kalangan muda.

“Sehingga ini yang barangkali menyebabkan terhambatnya pelestarian sastra Indonesia di kalangan generasi saat ini,” kata Irma.

Dugaan itu dibenarkan Muhammad Qhusyari (20), salah satu peserta didik Sanggar Sastra Balai Pustaka angkatan kedua yang kami temui di Ruang Hamka.

Sejak usianya 13 tahun, Qhusyari sudah malang melintang bergabung ke berbagai komunitas sastra, hingga akhirnya berlabuh ke Sanggar Sastra Balai Pustaka.

Dia mengaku tak pernah bergabung dengan komunitas sastra dalam jangka waktu yang lama. Sebab, kerap kali komunitas sastra hilang usai mementaskan karyanya. Entah itu karena alasan finansial, atau sekadar konflik di internal komunitas.

“Biasanya kalau gabung di komunitas itu enggak bertahan lama. Habis manggung atau pentas gitu, hilang saja kemudian. Enggak ada kabar lagi, terus cari lagi komunitas baru dan begitu terus berulang,” ungkapnya.

Qhusyari sendiri kini tertarik untuk mencurahkan kreatifitasnya ke dunia digital, melalui blog atau aplikasi penyalur tulisan digital. Meskipun hal itu tak berarti banyak untuknya.

Sebab, karya sastra yang dibuat pada aplikasi digital tersebut hanya bisa dinikmati oleh dirinya sendiri. Kalau beruntung, sesekali ada beberapa kompetisi sastra yang bisa disalurkannya melalui media digital.

Yang jelas, bagi Qhusyari, bergabung ke dalam komunitas sastra tak melulu soal mementaskan karyanya. Tapi mendapatkan ilmu dari pegiat sastra lainnya yang berkompetensi.

Dari kompetisi itu pula dirinya mendapat informasi ihwal kelas sastra di Sanggar Sastra Balai Pustaka. Kini, empat bulan sudah Qhusyari bergabung di sanggar ini.

Dirinya merasa puas dengan fasilitas maupun ilmu yang didapatkan di Sanggar Sastra Balai Pustaka. Terlebih sanggar ini juga bekerjasama dengan Balai Komunitas Musikalisasi Puisi Indonesia (KOMPI) dan Sanggar Matahari - sebagai instruktur dan narasumber pelatihan.
 

Tak hanya itu, Qhusyari dan rekan-rekannya juga berkesempatan mementaskan karyanya di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Suatu kemewahan yang jarang didapatkannya selama ini. Sebab, mementaskan karya sastra seperti teater membutuhkan ongkos yang tak sedikit.


"Kalau di komunitas sebelumnya tuh ya, kalau mau mentas, ya nyari duit sendiri. Jual bunga, nyari sponsor, susah banget," keluhnya.

Ambil contoh, Teater Pandora, salah satu kelompok teater yang dibentuk alumni Universitas Indonesia (UI). Mereka membutuhkan biaya produksi paling sedikit Rp100 juta untuk satu kali pentas. 

Ditambah dengan jarangnya sponsor yang mau mengucurkan uang di dunia sastra. Lantaran pentas teater dinilai tak banyak peminatnya, dan tidak lagi memberi keuntungan.

“Untuk itu, tentu saja, kami apresiasi sekali apa yang dilakukan Balai Pustaka. Dan apa yang kami dapat semuanya gratis,” tandas Qhusyari.

 

Nilai sastra era digital

Sastrawan Djamal D. Rahman menganggap mahal tidaknya suatu pentas sastra itu relatif. Namun, yang terpenting saat ini bukanlah mencari cara untuk menghidupkan pementasan lewat panggung.

Menurutnya, sastra harus bersarang ditengah-tengah masyarakat, yang sudah tentu ikut berkembang bersama zaman.

Dalam konteks kekinian, sastra tak lagi harus diidentikkan lewat kertas, ataupun didengarkan secara lisan melalui panggung dan pentas.

"Seiring perkembangan zaman, wadah sastra sudah bergeser ke arah internet dan digital," ujar Djamal saat kami temui beberapa waktu lalu.

Sastra, sambung Djamal, harus fleksibel, luwes menyesuaikan diri.

Jadi, ihwal pementasan sastra, sastra dapat hadir dalam bentuk video yang diunggah ke dunia maya. Dengan begitu, karya sastra bisa menyentuh hingga telepon genggam.

"Memahami perubahan sangat penting untuk menyosialisasikan sastra," ujarnya.
 
COK

  Card 2 of 4  

Aktifkan notifkasi untuk mendapatkan berita terkini dari medcom.id

Notifikasi dapat dimatikan kapanpun melalui pengaturan browser.

Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id