Pembongkaran Stasiun Radio Bung Tomo Mengkhianati Bangsa

    Amaluddin - 09 Mei 2016 16:00 WIB
    Pembongkaran Stasiun Radio Bung Tomo Mengkhianati Bangsa
    Puluhan orang mengatasnamakan Arek Suroboyo Menggugat menggelar aksi terkait robohnya bangunan cagar budaya stasiun radio Bung Tomo di depan Gedung Negara Grahadi, Senin 9 Mei 2016. (Foto: MTVN/Amaluddin)
    medcom.id, Surabaya: Protes dan kecaman terhadap Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya terkait robohnya bangunan bekas stasiun radio Bung Tomo terus bergulir. Kali ini, aksi protes datang dari puluhan orang yang mengatasnamakan Arek Suroboyo Menggugat.

    Aksi yang diikuti berbagai kalangan seperti pemerhati sejarah, budayawan, seniman, politisi, serta akademisi ini dipimpin langsung Bambang Sulistomo, putra Bung Tomo.

    Dalam orasinya, Bambang mengaku kecewa terhadap Pemkot Surabaya yang dinilai lengah menjaga dan mengawasi rumah bekas stasiun radio Bung Tomo di Jalan Mawar nomor 10, Surabaya. Padahal, kata dia, Pemkot Surabaya telah menjadikan bangunan tersebut sebagai Bangunan Cagar Budaya Tipe B berdasarkan SK Wali Kota Surabaya Nomor 188.45/004/402.1.04/1998.

    "Pembongkaran bangunan bersejarah itu adalah bentuk pengkhianatan pada nilai perjuangan bangsa Indonesia," kata Bambang, Senin (9/5/2016).

    Menurut Bambang, siapapun yang membongkar bangunan sejarah serta mencoba menghilangkan nilai-nilai perjuangan adalah mengkhianati nilai perjuangan pahlawan dan bangsa. 
    "Jadi tidak ada alasan bangunan cagar budaya dirobohkan," katanya.

    Pada Selasa, 3 Mei, bangunan cagar budaya bekas stasiun Radio tempat Bung Tomo menyiarkan perjuangan rakyat Surabaya melawan sekutu atau penjajah Belanda, telah dibongkar dan kini rata dengan tanah.

    Rumah di Jalan Mawar No. 10, Surabaya, itu sudah dijual pemiliknya, Hurin (anak Amin, pemilik rumah tersebut), kepada swasta untuk perluasan plaza kecantikan yang berada persis di sebelah bangunan tersebut.

    Saat ini, bangunan dengan lahan seluas 15x30 meter itu hanya menyisakan puing-puing bangunan seperti kayu dan batu bata. Hanya tanaman hijau yang tampak dan belum ditebang di depan rumah era kolonial Belanda pada 1927 silam itu.




    (MEL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id