Ribuan Warga Berebut Ketupat dalam Tradisi Pekan Syawalan Jurug

    Pythag Kurniati - 02 Juli 2017 13:39 WIB
    Ribuan Warga Berebut Ketupat dalam Tradisi Pekan Syawalan Jurug
    Penyebaran ribuan ketupat
    medcom.id, Solo: Joko Tingkir dan beberapa pengawalnya menyusuri sungai menuju Demak. Namun di tengah perjalanan sekawanan buaya dan raksasa mengadang rakit Joko Tingkir.

    Lelaki bernama asli Mas Karebet itu pun bertarung demi niat luhurnya. Joko Tingkir akhirnya menekuk lutut buaya dan para raksasa. Bahkan kawanan buaya mengawal rakitnya menuju ke Demak.

    Fragmen tersebut diperankan dengan apik dalam tradisi Syawalan Jurug di Taman Satwa Taru Jurug Solo, Minggu, 2 Juli 2017. Tokoh Joko Tingkir diperankan oleh Gusti Pangeran Haryo Mangkubumi, putra tertua Pakubuwono XIII.

    Ribuan Warga Berebut Ketupat dalam Tradisi Pekan Syawalan Jurug

    Setelah fragmen usai, dilanjutkan dengan tradisi menyebar ketupat atau yang dalam bahasa jawa disebut 'kupat'. Sebanyak 2 ribu ketupat dan 2 ribu apem disebar dan diperebutkan ribuan pengunjung.

    Salah seorang pengunjung asal Boyolali, Jawa Tengah Dwi Istiqomah mengaku ikut berebut ketupat. "Seru sekali," ujarnya sembari menjinjing beberapa ketupat.

    Budayawan Keraton Kasunanan Surakarta KPA Winarnokusumo menjelaskan, tradisi Syawalan Jurug ini dimulai sejak tahun 1970-an. Tak hanya menjadi ajang hiburan bagi masyarakat namun tradisi ini mengandung filosofi.

    "Buaya dan raksasa dalam cerita Joko Tingkir yang diperankan menyimbolkan penghambat," ungkap dia.

    Untuk mencapai cita-cita luhur, seseorang tidak dihadapkan pada jalan yang mudah. "Harus kuat menghadapi gangguan dan godaan," imbuhnya.

    Ribuan Warga Berebut Ketupat dalam Tradisi Pekan Syawalan Jurug

    Winarnokusumo menjelaskan, disebarnya ketupat atau kupat relevan dengan perayaan hari raya Idulfitri. Kupat bermakna ngaku lepat atau mengaku salah.

    "Sepantasnya sebagai manusia kita jangan berebut merasa benar, tapi berebutlah merasa salah," katanya.

    Direktur Taman Satwa Taru Jurug Bimo Wahyu Widodo mengungkapkan, tradisi syawalan jurug sangat diminati masyarakat dari Solo maupun pengunjung luar Solo. Hingga saat ini TSTJ mencatat rata-rata ada 11 ribu pengunjung setiap hari selama masa libur lebaran.

    "Makanya kami selalu lakukan pengembangan. Seperti tahun ini, sebelum dibagikan ribuan ketupat Syawalan Jurug terlebih dahulu dikirab dari UNS menuju TSTJ," ujarnya.



    (ALB)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id