Mahasiswi UGM Korban Dugaan Pemerkosaan Tolak Divisum

    Patricia Vicka, Ahmad Mustaqim - 11 Januari 2019 17:48 WIB
    Mahasiswi UGM Korban Dugaan Pemerkosaan Tolak Divisum
    Kabid Humas Polda DIY, AKBP Yuliyanto di Mapolda DIY, Kamis, 27 Desber 2018. Medcom.id/ Ahmad Mustaqim
    Yogyakarta: Korban dugaan kasus pemerkosaan mahasiswi Universitas Gadjah Mada (UGM), S menolak melakukan divisum. Penyintas menolak visum et repertum (visum fisik) karena bekas luka fisik sudah hilang.

    "Peristiwanyakan sudah lama. Penyitas juga tidak nyaman tubuhnya di visum," kata Kuasa hukum N dari Pusat Krisis Perempuan Rifka Annisa, Catur Udi Handayani saat jumpa pers di kantor Rifka Annisa Jalan Jambon, Sleman, Yogyakarta, Kamis, 10 Januari 2019.
    Meski begitu, N tak keberatan jika polisi melakukan visum et repertum psikiatrikum yakni visum psikologi. Lantaran dampak psikologis dari peristiwa kekerasan tersebut masih terlihat jelas hingga saat ini. Visum psikologi dikalim Rifka bisa dijadikan bukti dalam persidangan untuk mengungkap kasus dugaan pemerkosaan.

    Polda Tetap Menyelidiki Kasus Pemerkosaan

    Meski korban dugaan kasus pemerkosaan mahasiswi Universitas Gadjah Mada (UGM), S menolak divisum fisik, Polda Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) tetap melanjutkan penyelidikan kasus tersebut. 

     Kepala Bidang Humas Polda DIY, AKBP Yuliyanto mengaku visum ini dianggap menjadi salah satu bagian dalam penuntasan kasus. 

    "(Penolakan visum) ini jadi menyulitkan penyidikan kasus. Merepotkan agar (kasus) cepat selesai," kata Kepala Bidang Humas Polda DIY, AKBP Yuliyanto ditemui di Mapolda DIY, Jumat, 11 Januari 2019. 

    Yuliyanto menuturkan, aparat sudah memeriksa sebanyak 20 saksi. Sementara, tiga saksi lain berinisial S, BG, dan TV, yang diharapkan berhalangan hadir. 

    "Hari ini kami sudah memeriksa lagi terlapor (terduga pemerkosa berinisial H) didampingi pengacaranya. Tapi yang bersangkutan belum berani bicara ke media," kata dia. 

    Direktur Reserse Kriminal Umum Polda DIY, Komisaris Besar Hadi Utomo mengatakan tak masalah atas penolakan visum korban. Menurut dia, aparat akan tetap melanjutkan penyidikan kasus yang terjadi saat KKN di Maluku pada 2017 silam. 

    "Senin (7 Januari 2019) depan saya akan ke Maluku memimpin penyidikan. Pemeriksaan terlapor tadi untuk melengkapi hasil (tim Polda DIY) yang sudah ke Maluku," ujarnya. 

    Atas penolakan visum korban, Hadi mengatakan tak masalah. "Kasus kita lanjutkan tanpa (hasil) visum," kata dia. 

    Pendamping hukum korban, Catur Udi Handayani mengatakan kliennya telah  menghadiri pemeriksaan kepolisian. Ia menjelaskan, penolakan visum dilakukan karena bekas luka fisik korban telah hilang. 

    "Mengingat waktu kejadian yang sudah terlalu lama. Meskipun demikian, penyintas (S) mengajukan permohonan untuk melakukan visum et repertum psikiatrikum karena dampak 
    psikologis dari peristiwa kekerasan tersebut masih membekas hingga saat ini," ujarnya. 



    (ALB)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id