Pengacara Bantah Ada Pemerkosaan Terhadap Mahasiswi UGM

    Ahmad Mustaqim - 29 Desember 2018 16:46 WIB
    Pengacara Bantah Ada Pemerkosaan Terhadap Mahasiswi UGM
    Pengacara terduga pemerkosa mahasiswi UGM, Tommy Santoso. Medcom.id-Ahmad Mustaqim
    Yogyakarta: Pengacara terduga pemerkosa mahasiswi Universitas Gadjah Mada (UGM), Tommy Santoso memberikan klarifikasi atas peristiwa yang terjadi antara mahasiswa berinisial H dengan mahasiswi berinisial S saat menjalani kuliah kerja nyata (KKN) pada medio 2017. Menurut Tommy, tak ada unsur pemerkosaan dalam kejadian di Pulau Seram, Maluku itu. 

    "Kejadiannya, hanya sebagai tindakan verbal, mencium, memegang, menggerayangi. Dalam arti tidak membuka kancingnya. Hal itu dilakukan dalam keadaan korban sadar," kata Tommy saat menggelar konferensi pers di kawasan Jalan Padjajaran (Ringroad Utara) Kecamatan Depok, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), pada Sabtu, 29 Desember 2018. 

    Tommy membantah berita yang beredar tentang dugaan kliennya melakukan pemerkosaan. Ia mengatakan, peristiwa yang terjadi di sebuah pondokan saat KKN ada banyak orang. Ia menyebutkan, S-lah yang masuk ke dalam kamar H saat itu. 

    Saat kejadian, kata dia, tak ada unsur paksaan. "Klien mengatakan tidak ada paksaan. Tak ada ancaman kekerasan juga. (Usai kejadian) korban diantar pulang," kata dia. 

    Tommy membantah jika sempat ada yang menyebutkan ada hubungan suami-istri. Menurut dia, jika terjadi sesuatu seharusnya korban bisa berteriak dan akan mendapat respons dari penghuni pondokan yang lain. 

    "Kalau ada teriakan pasti ada tindakan hukuman moral kepada klien saat itu," ujarnya. 

    Baca: Mahasiswi UGM Korban Pemerkosaan Buat Laporan Resmi

    Ia menambahkan, saat ini kasus tersebut tengah ditangani Polda DIY. Namun, ia merasa janggal karena pelapor kasus tersebut ke kepolisian atas nama Arif Nurcahyo dan mewakili UGM. Menurut dia, yang seharusnya membuat laporan kasus demikian adalah korban. 

    "Pelapor tidak ada dari pihak korban. Kenapa korban tak lapor. Kenapa korban curhat ke yang lain malah," ungkapnya. 

    Meski demikian, ia tetap mempercayakan penanganan kasus itu kepada aparat kepolisian. Ia meminta aparat bisa bertindak adil dalam menangani kasus. 

    "Jangan adanya tekanan media dan tekanan masa, polisi menjustifikasi sepihak. Kami juga meminta UGM untuk menunggu hasil penyidikan yang dilakukan polisi. Kami yakini pemeriksaan polisi benar-benar apa adanya," ucapnya. 

    Kepala Bidang Humas Polda DIY, AKBP Yuliyanto tak memasalahkan siapa pelapor kasus itu. Ia menilai sah-sah saja pengacara menyampaikan pendapat. 

    "Kalau legal standing pelapor tak bisa dibuktikan kita tinggal mengambil tindakan nanti," kata dia. 

    Ia memastikan polisi masih menyidik kasus ini. Namun, ia masih enggan menyampai perkembangan penyidikan kepolisian. 

    Kepala Humas dan Protokol UGM, Iva Ariani mengatakan tak mengetahui pelapor kasus itu ke kepolisian. Menurut dia, UGM sejauh ini sebatas melakukan pengaduan. 

    "Secara institusi UGM tak membuat laporan. UGM punya kewenangan mengurus akademis dan etika. Masalah hukum biarkan kepolisian yang menangani. Kita dukung kepolisian, kita suport," ujarnya. 




    (ALB)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id