Bekraf Ingin Ubah Ekosistem Perputaran Ekonomi

    Ahmad Mustaqim - 07 April 2019 14:09 WIB
    Bekraf Ingin Ubah Ekosistem Perputaran Ekonomi
    Sesi Kepala Bekraf saat berbicara dal acara Talk show bertema 'The Future is Here' di Royal Ambarrukmo Yogyakarta, Sabtu, 6 April 2019. Medcom.id/Ahmad Mustaqim
    Yogyakarta: Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Triawan Munaf mengatakan sektor ekonomi kreatif memerlukan dukungan besar. Satu hal penting yang dibutuhkan pelaku ekonomi kreatif ini soal kebijakan.

    Triawan menyebutkan, pendapatan domestik bruto (PDB) dari sektor ekonomi kreatif pada 2017 mencapai Rp989,15 triliun. Angka tersebut 7,38 persen dari PDB nasional dengan laju pertumbuhan 5,05 persen. Jumlah angka tersebut menyerap sekitar 17,69 juta tenaga kerja.

    "Proyeksi tahun lalu menyumbang Rp1.105 triliun. Ini akan terus bertambah lagi pertumbuhannya," ujar Triawan dalam sesi Talk show bertema 'The Future is Here' di Royal Ambarrukmo Yogyakarta, Sabtu, 6 April 2019.

    Ekonomi kreatif sudah ada sejak lama di Indonesia. Namun, hal ini belum bisa berkembang maksimal karena belum ada kebijakan pemerintah yang bisa mendorong sektor ekonomi ini.

    Pembenahan ekosistem perputaran ekonomi masih diperlukan, mulai dari pengambilan kebijakan dengan adanya kerja sama antarlembaga pemerintah. "Ini bisa jadi kekuatan tiga kali lipat," katanya.

    Ia mencontohkan bagaimana dunia perfilman sempat terkungkung puluhan tahun karena dianggap sebagai investasi negatif. Namun, situasi pada media belakangan telah berubah.

    Jumlah bioskop pada 2015 hanya 209 dengan 1.111 layar. Tahun lalu, bioskop telah bertumbuh menjadi 367 dengan jumlah layar sekitar 2 ribu. Ia memperkirakan pada 2027 jumlah bioskop di Indonesia bisa mencapai 1.300 dan 7.500 layar.

    "Untuk jumlah penonton ada sebanyak 16 juta pada 2015. Lalu pada 2018 sebanyak 50,2 juta orang. Tahun ini, kami targetkan mencapai 60 juta penonton," ujarnya.

    Keberadaan bioskop tersebut salah satunya mendukung industri perfilman tanah air. Menurut dia, porsi pemutaran film di bioskop saat ini sudah banyak memberikan porsi untuk film nasional. Ia memperkirakan angkanya sudah di batas 50 persen.  

    Perkembangan teknologi tak berpengaruh signifikan pada dunia perfilman. Sebab, porsi untuk pemutaran film nasional pada media Januari-Februari 2019 sudah mencapai 59 persen. Minat masyarakat menikmati di di bioskop tetap besar meski perjuangan dunia digital berkembang pesat.

    Dengan demikian, ia melanjutkan, ekonomi kreatif diyakini menjadi salah satu masa depan Indonesia. Ia meminta generasi saat ini bisa berfantasi dan berimajinasi kreatif untuk dituangkan menjadi hal ekonomi. Baginya, ide-ide gagasan adalah hal tak ada habisnya.

    "Musik belum, dan banyak hal lain yang belum. Ini perlu terus kita kembangkan," kata dia.

    Sementara, penyanyi Andien Aisyah mengungkapkan, ada banyak peluang yang bisa dimanfaatkan generasi saat ini. Zaman dulu, lanjutnya, penyanyi sulit mencari studio rekaman. Namun, saat ini musisi dapat menjadikan kamar tidur menjadi studio rekaman dan tetap menghasilkan jutaan kopi

    "Anak-anak muda saat ini bisa memunculkan berbagai macam genre musik. Informasi yang mudah didapat bisa menjadi inspirasi untuk terus menciptakan hal baru," tuturnya.



     



    (SUR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id