Ketulusan Seorang PKL Jaga Rumah Bersejarah Inggit Garnasih

    Roni Kurniawan - 21 Mei 2016 14:08 WIB
    Ketulusan Seorang PKL Jaga Rumah Bersejarah Inggit Garnasih
    Jajang Ruhiat, 41, PKL yang menjaga Rumah Bersejarah Ibu Inggit Ganarsih, menunjukkan replika batu yang digunakan Inggit membuat jamu dan bedak. Foto: Metrotvnews.com/Roni Kurniawan
    medcom.id, Bandung: Kota Bandung menjadi salah satu kota yang memiliki beberapa tempat bersejarah. Di antaranya Rumah Bersejarah Inggit Ganarsih yang berada di Jalan Ciateul, Kota Bandung, Jawa Barat.

    Mendengar nama Inggit Ganarsih, tentu langsung terngiang di telinga kita sosok Presiden pertama Soekarno atau Bung Karno. Ya, karena Inggit merupakan istri kedua dari Bung Karno dan sempat mendiami rumah tersebut. 

    Sejarah tersebut mungkin sudah kita ketahui baik saat duduk di bangku sekolah maupun di bangku kuliah. Namun, siapa sangka orang yang menjaga rumah bersejarah tersebut adalah seorang pedagang kaki lima (PKL). Adalah Jajang Ruhiat, 41, yang sejak 2005 mengabdikan dirinya untuk menjaga rumah bersejarah tersebut.

    Awalnya Jajang prihatin, setelah ketua rukun tangga (RT) setempat meninggal dunia, tidak ada lagi yang menjaga rumah Inggit. Dari situ Jajang mulai terpanggil menjaga rumah yang berada di kawasan penjual onderdil bekas untuk sepeda motor itu.

    Ketulusan Seorang PKL Jaga Rumah Bersejarah Inggit Garnasih
    Bagian depan Rumah Inggit Garnasih. Foto: Metrotvnews.com/Roni

    Setiap hari, sekitar pukul 07.00 WIB, usai menjajakan barang dagangannya yang tak jauh dari rumah Inggit, Jajang mampir ke rumah Inggit. Beberapa kunci yang ia pegang pun dikeluarkan untuk membuka gerbang rumah setinggi dua meter. Dia ditemani petugas keamanan yang ditugaskan Museum Sribaduga selaku pengelola rumah tersebut sejak awal 2015.

    "Petugas keamanan di sini tak setiap hari datang. Dua hari masuk, dua hari libur. Jadi, tetap saya yang membuka gerbang. Kecuali saat ada security yang jaga sampai malam," kata Jajang saat berbincang dengan Metrotvnews.com, di Rumah Bersejarah Inggit Ganarsih, Jalan Ciateul, Kota Bandung, Sabtu (21/5/2016).

    Ketulusan Seorang PKL Jaga Rumah Bersejarah Inggit Garnasih
    Seorang pengunjung melihat foto Bung Karno dan Inggit Garnasih. Foto: Antara/Rezza Estily

    Selain bersama petugas pengaman, Jajang ditemani petugas kebersihan yang setiap hari datang pukul 08.00 WIB. Keberadaan petugas kebersihan tak membuat Jajang abai terhadap kebersihan, baik di halaman maupun di luar rumah. Jajang pun kerap membersihkan debu-debu yang hinggap di setiap bingkai yang terdapat foto Inggit maupun Bung Karno.

    "Saya mah enggak terus ngandelin cleaning service karena saya juga punya rasa tanggung jawab dan kecintaan saya sama rumah ini. Jadi, saya juga harus ikut bersihin kalau ada debu-debu. Terus juga periksa kalau ada yang bocor," bebernya.

    Jajang diangkat menjadi pegawai honorer oleh Pemprov Jawa Barat pada 2011. Tugasnya mengelola Rumah Bersejarah Inggit Ganarsih. Sebesar Rp750 ribu didapat Jajang setiap bulannya, namun Jajang menegaskan tujuan utamanya sebagai juru pelihara karena ia menghargai perjuangan Inggit sebagai pahlawan asli Sunda.

    "Tujuan saya bukan jadi honorer, tapi ingin ikut melestarikan. Saya merasa bangga bisa ikut merawat. Secara pribadi saya menghormati Ibu Inggit. Beliau pejuang tanah Sunda asli. Saya sudah seperti menjaga rumah sendiri," imbuhnya.

    Ketulusan Seorang PKL Jaga Rumah Bersejarah Inggit Garnasih
    Rumah Inggit Garnasih terlihat asri. Foto: Metrotvnews.com/Roni

    Pada 2016 ini honor yang didapatkan Jajang bertambah menjadi Rp1 juta. Ia pun bersyukur apa yang diterimanya, meskipun tidak mengharapkan. Karena mata pencaharian utamanya tetap menjual onderdil bekas sepeda motor.

    Selain sebagai juru pelihara, Jajang rupanya menjadi pemandu bagi pengunjung yang menyambangi rumah bersejarah itu. Wawasan Jajang mengenai seluk beluk rumah sejarah itu pun patut diacungi jempol. Meski awalnya hanya PKL, Jajang sudah begitu hafal sejarah Inggit. 

    "Ibu Inggit ikut membantu Soekarno dalam pergerakan nasional. Di Bandung kan Soekarno bikin PNI 1927. Ibu Inggit yang mendampingi Soekarno ke sana kemari, termasuk saat Soekarno dipenjara di Banceuy maupun Sukamiskin," kata Jajang menceritakan sepenggal sejarah mengenai Inggit dan Bung Karno.

    Ia berharap masyarakat makin banyak mengetahui keberadaan rumah bersejarah itu meski Kota Bandung memiliki beberapa tempat wisata baru. Ia juga tak bosan-bosannya menemani dan menjawab segala pertanyaan dari setiap pengunjung yang datang.

    "Saya tidak pernah merasa bosan karena ini kewajiban dari dulu. Saya tulus jaga rumah ini karena ini rumah sejarah. Mudah-mudahan semakin banyak yang ke sini agar tahu juga sejarahnya," kata pria yang bermukim di sebuah kontrakan di kawasan Kopo, Kota Bandung, itu.



    (UWA)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id