Wabah Virus Korona Menurun, Jam Malam Tunisia Diperpendek

    Arpan Rahman - 14 Mei 2020 17:06 WIB
    Wabah Virus Korona Menurun, Jam Malam Tunisia Diperpendek
    Tunisia melaporkan tidak ada kasus baru covid-19 selama tiga hari terakhir. Foto: AFP
    Tunis: Tunisia memperpendek jam malam setelah tiga hari berturut-turut tanpa mencatat kasus virus korona dan ketika pemerintah melonggarkan penutupan menyeluruh atau lockdown.

    Negeri demokrasi Afrika Utara memberlakukan jam malam pada Maret, bertujuan memperlambat penyebaran virus. Seraya meminta orang tetap di rumah, dikombinasikan dengan kuncian yang menutup semua kecuali toko-toko utama dan layanan penting.

    “Presiden Kais Saied telah memangkas jam malam menjadi pukul 11.00 malam sampai pukul 5.00 pagi bukannya pukul 8.00 malam sampai 6.00 pagi,” kantor berita negara TAP melaporkan pada Rabu.

    “Pemangkasan terjadi 10 hari setelah dimulainya pembukaan kembali secara bertahap birokrasi dan ekonomi,” imbuh laporan itu.

    Ini mengikuti pengumuman pemerintah bahwa tidak ada kasus virus korona baru yang telah direkam selama tiga hari berturut-turut, dengan total 1.032 kasus yang dikonfirmasi dan 45 kematian.

    Namun, Jalila Ben Khelil, seorang anggota komite penasehat pemerintah tentang krisis virus korona, mengatakan bahwa meskipun pembatasan telah dilonggarkan, itu dapat diberlakukan kembali jika perlu.

    "Kami takut akan gelombang baru jika ada kelambanan, dan orang-orang terus mengabaikan dan tidak menghargai jarak sosial dengan memadati tempat-tempat umum," katanya melalui telepon, dirilis dari Al Jazeera, Kamis 14 Mei 2020.

    “Hanya lima pasien dengan covid-19, penyakit yang disebabkan oleh virus korona, masih dirawat di rumah sakit di Tunisia,” kata Ben Khelil.

    Khelil menghubungkan keberhasilan negara itu dalam mengendalikan wabah dengan sejumlah langkah kesehatan masyarakat yang cepat dan agresif. Pemerintah sejauh ini telah memberlakukan banyak pembatasan pada pergerakan termasuk penutupan sekolah, masjid, kafe  dan restoran.

    Tunisia memasuki krisis dengan hanya 500 tempat perawatan intensif yang dilengkapi dengan ventilator, dan pemerintah mengatakan pada awal wabah bahwa sistem kesehatan akan berjuang untuk mengatasi lebih dari 5.000 kasus.

    “Telah ditambahkan 100 tempat tidur perawatan intensif lainnya, termasuk dengan pembangunan fasilitas sementara di pusat olahraga di Tunis, dan telah meningkatkan kesiapan di rumah sakit umum di seluruh negeri,” kata Ben Khelil.

    Berbagai pusat kota telah menjadi jauh lebih sibuk sejak penguncian dilakukan dengan relaks untuk memungkinkan toko-toko yang lebih luas dibuka, pasar yang ramai, dan bahkan pantai-pantai umum yang sibuk.

    Perdana Menteri Elyes Fakhfakh mengatakan dalam sebuah wawancara televisi pada Selasa bahwa pemerintah akan membutuhkan sekitar EUR5 miliar (setara Rp80,5 triliun) dalam pendanaan eksternal tahun ini, dua kali lipat dari jumlah yang diperkirakan sebelumnya.





    Informasi lengkap tentang perkembangan penanganan pandemi covid-19 bisa langsung diakses di sini (https://www.medcom.id/corona).



    (FJR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id