Ilmuwan Nuklir Iran Dibunuh, Israel Diduga sebagai Pelaku

    Fajar Nugraha - 28 November 2020 06:44 WIB
    Ilmuwan Nuklir Iran Dibunuh, Israel Diduga sebagai Pelaku
    Sebuah pembangkit listrik tenaga nuklir milik Iran di Bushehr. Iran menegaskan program nuklirnya untuk kepentingan damai. Foto: AFP


    Pembunuhan Fakhrizadeh terjadi kurang dari dua bulan sebelum Joe Biden menjabat sebagai presiden AS.

    Biden telah berjanji untuk kembali ke diplomasi dengan Iran setelah empat tahun sikap bermusuhan di bawah Presiden AS Donald Trump. Trump menarik diri dari kesepakatan nuklir Iran pada 2018 dan mulai menerapkan kembali sanksi yang melumpuhkan.

    Pembunuhan berantai

    Trump mengatakan bahwa kesepakatan yang secara resmi dikenal sebagai Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA) tidak menawarkan jaminan yang cukup untuk menghentikan Teheran memperoleh bom atom. Iran selalu membantah menginginkan senjata seperti itu.

    Trump pada hari Jumat me-retweet laporan tentang pembunuhan Fakhrizadeh, tanpa mengomentarinya sendiri.

    Pembunuhan itu terjadi sehari setelah Thailand mengatakan, telah mengembalikan tiga orang Iran yang dipenjara karena plot bom 2012 yang gagal di Bangkok. Plot itu dikaitkan Israel dengan serentetan serangan terhadap diplomatnya di seluruh dunia.

    Iran mengatakan ketiganya adalah seorang pengusaha dan dua warga lainnya yang ditahan di luar negeri atas dasar ‘tuduhan palsu’, tanpa memberikan informasi lebih lanjut.



    Read All




    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id