comscore

AS Bekukan Bantuan Rp9,9 Triliun Untuk Sudan karena Kudeta Militer

Marcheilla Ariesta - 26 Oktober 2021 09:39 WIB
AS Bekukan Bantuan Rp9,9 Triliun Untuk Sudan karena Kudeta Militer
Warga Sudan protes menolak kudeta/AFP
Khartoum: Amerika Serikat (AS) membekukan bantuan senilai USD700 juta (setara Rp9,9 triliun) untuk Sudan. Pembekuan bantuan terjadi setelah militer negara itu melakukan kudeta dan menangkap pemerintah sipil.

Seorang juru bicara mengatakan, AS bersedia menggunakan semua tindakan untuk menyelesaikan krisis.
"Amerika Serikat menghentikan bantuan dari USD700 juta dalam alokasi bantuan darurat dana dukungan ekonomi untuk Sudan," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Ned Price, dilansir dari Russia Today, Selasa, 26 Oktober 2021.

Ia menambahkan, tidak ada uang bantuan yang sudah ditransfer sejauh ini.

Pendanaan itu dimaksudkan membantu transisi Sudan ke pemerintahan demokratis setelah pemimpin lama, Omar Bashir digulingkan dari kekuasaan pada 2019.

Namun, pada Senin kemarin, transisi tersebut menjadi kacau ketika militer menangkap Perdana Menteri Abdalla Hamdok dan menteri lainnya dalam serangan sebelum fajar. Perwira militer Abdel Fattah Al-Burhan membubarkan pemerintah dan mengumumkan bahwa militer sendiri akan mengambil alih sisa transisi.

Baca juga: 7 Pedemo Antikudeta Sudan Tewas Ditembaki Militer

Price mengatakan, pejabat AS belum diperingatkan tentang kudeta. Jadi ia tidak bisa memberikan informasi mengenai keberadaan dan kondisi Hamdok.

Ia meminta militer Sudan untuk segera membebaskan para pejabat yang ditahan.

"AS bersedia menggunakan setiap dan semua tindakan yang tepat untuk meminta pertanggungjawaban mereka yang mungkin mencoba menggagalkan keinginan dan aspirasi rakyat Sudan," lanjutnya.

Price tidak merinci tindakan apapun saat ini, namun ia berulang kali menyebut protes damai yang terjadi di Sudan sebagai sesuatu yang menekan militer. Namun, tak lama setelah pengarahan Price, sebuah pertemuan kelompok sipil dan politik Sudan yang menyebut diri mereka 'Kekuatan Kebebasan dan Perubahan' menyerukan pembangkangan sipil massal.

Kelompok itu mengatakan akan memenuhi jalan dengan pengunjuk rasa dan menggulingkan junta militer.

(FJR)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id