PM Israel Peringatkan AS untuk Tidak Berhubungan dengan Presiden Baru Iran

    Fajar Nugraha - 21 Juni 2021 08:57 WIB
    PM Israel Peringatkan AS untuk Tidak Berhubungan dengan Presiden Baru Iran
    PM Israel Naftali Bennett peringatkan Amerika Serikat tentang Presiden baru Iran Ebrahim Raisi. Foto: AFP



    Tel Aviv: Perdana Menteri Israel Naftali Bennett memperingatkan Amerika Serikat (AS) untuk ‘bangun’ dan tidak merangkul Ebrahim Raisi, Presiden Iran yang baru terpilih. Peringatan dikeluarkan di saat Barat berusaha untuk memulai kembali pembicaraan perlucutan senjata nuklir dengan Teheran.

    Menteri Luar Negeri Iran Javad Zarif pada Jumat mengatakan bahwa negosiasi ulang Kesepakatan Nuklir Iran dapat terjadi sebelum Raisi mengambil alih kekuasaan. Hal ini menawarkan harapan bagi pejabat Gedung Putih bahwa Presiden Joe Biden mungkin dapat memulai kembali pembicaraan yang dimulai di bawah mantan Presiden Barack Obama pada 2015.

     



    Baca: Ebrahim Raisi, Tokoh Garis Keras yang Menjadi Presiden Iran.

    Tetapi Bennett dari Israel memperingatkan AS agar tidak mencoba bekerja dengan pejabat Teheran mana pun, terutama pemerintahan Raisi yang akan datang. Pemerintahan Biden telah menegaskan kembali bahwa fokusnya adalah memulai kembali negosiasi nuklir dengan Iran.

    "Sebuah pemerintahan algojo brutal tidak boleh diizinkan memiliki senjata pemusnah massal," kata Bennett kepada wartawan di Yerusalem, Minggu, seperti dikutip Newsweek, Senin 21 Juni 2021.

    Tidak hanya itu, Bennett mengecam semua diskusi tentang negosiasi ulang kesepakatan nuklir dengan Iran. Bennett kemudian mengolok-olok pemilihan Iran pekan lalu karena dianggapnya jauh dari bebas dan populer.

    Penghitungan pemilihan resmi Iran menunjukkan Raisi, kepala ahli hukum negara itu yang juga saat ini dikenai sanksi AS karena pelanggaran hak asasi manusia, memenangkan 62 persen suara dalam pemilihan hari Sabtu.

    "Pemilihan Raisi, menurut saya, adalah kesempatan terakhir bagi kekuatan dunia untuk bangkit sebelum kembali ke perjanjian nuklir, dan memahami dengan siapa mereka berbisnis," tambah Bennett dalam sebuah pernyataan yang dia bacakan Minggu dalam bahasa Ibrani dan kemudian dalam bahasa Inggris.

    "Posisi Israel tidak akan berubah dalam hal ini,” tegas Bennett.

    Pemilihan Raisi baru-baru ini, seorang hakim garis keras dan rekan dekat Ayatollah Ali Khamenei, dikecam oleh pejabat pemerintah Israel dan AS sebagai transfer kekuasaan yang curang.

    Baca: Ebrahim Raisi Jadi Presiden Iran, Ini Tanggapan Dunia.

    Penasihat Keamanan Nasional Gedung Putih Jake Sullivan pada Minggu mengatakan kepada ABC News 'This Week’ bahwa pemerintahan Raisi yang baru kemungkinan akan memiliki sedikit pengaruh pada pembicaraan nuklir yang sedang berlangsung dan diskusi tentang tarif. Sullivan mengatakan "keputusan akhir" selalu kembali ke Khamenei, tidak peduli siapa yang memegang kekuasaan di pemerintahan Teheran.

    "Sulit untuk berspekulasi tentang dinamika internal Iran, tetapi apa yang akan saya katakan adalah keputusan akhir apakah akan kembali ke kesepakatan atau tidak terletak pada Pemimpin Tertinggi Iran dan dia adalah orang yang sama sebelum pemilihan ini seperti dia setelah pemilu,” tambah Sullivan.

    Gedung Putih telah memulai pembicaraan semacam itu dengan anggota perjanjian lainnya, termasuk Inggris, Prancis, Rusia, Tiongkok, dan Jerman.

    (FJR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id