Israel akan Gunakan Teknologi Anti-Terorisme untuk Lacak Korona

    Willy Haryono - 15 Maret 2020 08:50 WIB
    Israel akan Gunakan Teknologi Anti-Terorisme untuk Lacak Korona
    PM Israel Benjamin Netanyahu. (Foto: AFP)
    Tel Aviv: Israel berencana menggunakan teknologi anti-terorisme untuk melacak pengidap virus korona covid-19 di tengah masyarakat. Teknologi siber ini akan dikerahkan untuk mendeteksi individu positif korona dan siapa-siapa saja yang telah melakukan kontak dengannya.

    "Kita akan segera menggunakan teknologi dan cara-cara digital yang selama ini kita gunakan untuk memerangi terorisme," ujar Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dalam konferensi pers di Yerusalem.

    Dilansir dari National Post, penggunaan teknologi anti-terorisme untuk pelacakan korona ini harus mendapat persetujuan kabinet dan juga Kementerian Hukum Israel karena berpotensi melanggar privasi masyarakat.

    Shin Bet, sebuah badan keamanan internal Israel, mengonfirmasi bahwa pihaknya sedang memeriksa kapabilitas teknologi anti-terorisme untuk memerangi virus korona atas permintaan PM Netanyahu dan Kementerian Kesehatan.

    Selain mengenai teknologi anti-terorisme, PM Netanyahu juga mengumumkan bahwa sejumlah pusat perbelanjaan, hotel, restoran, dan bioskop di Israel akan ditutup mulai hari ini, Minggu 15 Maret 2020.

    Ia mengimbau semua pegawai untuk tidak pergi ke kantor kecuali jika memang diperlukan. Namun layanan-layanan vital, seperti apotek, supermarket, dan bank, akan diizinkan untuk tetap beroperasi.

    Sebelumnya, Kemenkes Israel telah mengimbau warga untuk menjaga jarak antar satu sama lain. Masyarakat juga diminta untuk tidak melakukan perkumpulan yang melibatkan lebih dari 10 orang di dalam satu ruangan.

    Avner Pinchuk, seorang pakar privasi dari Asosiasi Hak Sipil Israel, mengkritik rencana penggunaan teknologi anti-terorisme untuk memerangi korona. "Saya kurang setuju dengan pengumuman ini. Saya paham situasi saat ini unik, tapi rencana tersebut sepertinya berlebihan," ungkapnya.

    PM Netanyahu mengakui bahwa rencana tersebut bukan sesuatu yang ideal. Namun ia menegaskan bahwa covid-19 adalah "musuh tak terlihat" yang harus dapat dilacak dan dideteksi. Ia mengatakan, Israel akan mengikuti beberapa metode serupa dalam menangani korona seperti yang telah dilakukan Taiwan.

    "Selama masa jabatan saya sebagai perdana menteri, Saya selalu menghindari cara ini di tengah masyarakat sipil. Tapi saat ini sudah tidak ada pilihan lagi," sebut PM Netanyahu.

    Pekan kemarin, siapapun yang memasuki Israel diminta untuk mengisolasi diri sendiri selama dua pekan. Seluruh sekolah di Israel telah ditutup, dan puluhan ribu warga sedang menjalani karantina covid-19.

    Kemenkes Israel mengatakan 193 warga telah dinyatakan positif korona, dan sejauh ini tidak ada kematian.



    (WIL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id