Kematian Akibat Virus Korona di Iran Melonjak Jadi 1.135

    Arpan Rahman - 19 Maret 2020 18:04 WIB
    Kematian Akibat Virus Korona di Iran Melonjak Jadi 1.135
    Disinfektan disemprotkan oleh pihak petugas Iran menangkal virus corona. Foto: AFP
    Teheran: Iran melaporkan lompatan terbesar dalam kematian akibat virus korona ketika 147 orang meninggal. Angka ini meningkatkan jumlah kematian keseluruhan negara itu menjadi 1.135 jiwa.

    Lonjakan kematian yang hampir 15 persen -,di tengah total 17.361 kasus yang dikonfirmasi di Iran,- menandai peningkatan kematian terbesar 24 jam sejak pejabat Iran pertama kali mengakui infeksi virus pada pertengahan Februari.

    Ketika jumlah kasus bertambah, pasar makanan masih dipenuhi oleh pembeli dan jalan raya ramai ketika keluarga bepergian menjelang Tahun Baru Persia, Nowruz, pada Jumat.

    Wakil Menteri Kesehatan Alireza Raisi mendesak masyarakat agar menghindari perjalanan dan keramaian. Ia mengatakan kepada warga Iran bahwa hari-hari mendatang mewakili dua ‘pekan penting’ untuk mencoba mengendalikan virus.

    Dia mengkritik orang karena tidak mematuhi peringatan untuk tetap di rumah. "Ini sama sekali bukan situasi yang baik," katanya.

    Presiden Hassan Rouhani membela tanggapan pemerintahnya terhadap wabah tersebut dalam menghadapi kecaman yang meluas bahwa Iran bertindak terlalu lambat dan bahkan mungkin telah menutupi kasus-kasus awal. Dia katakan kepada kabinetnya bahwa pemerintah sedang ‘menangani’, dengan mengumumkan wabah segera setelah mengetahui tentang hal itu 19 Februari.

    "Kami berbicara kepada orang-orang dengan cara yang jujur. Kami tidak menunda-nunda," tambahnya, disitir dari TIME, Kamis 19 Maret 2020.

    Selama berminggu-minggu, para pejabat memohon para ulama untuk menutup masjid Syiah yang ramai guna menghentikan penyebaran virus. Pemerintah baru bisa menutupnya pekan ini.

    "Tentu saja sulit untuk menutup masjid dan tempat-tempat suci, tetapi kami berhasil. Itu adalah kewajiban agama untuk melakukannya," kata Rouhani.

    Iran juga mengatakan akan menutup masjid untuk salat Jumat bersama selama tiga pekan berturut-turut. Negara-negara Muslim lainnya, termasuk Arab Saudi, Kuwait, dan Uni Emirat Arab telah melakukannya juga.

    Virus, yang menyebabkan penyakit covid-19, telah menginfeksi lebih dari 200.000 orang di seluruh dunia dan membunuh lebih dari 8.000. Bagi kebanyakan orang, penyakit itu hanya menyebabkan gejala ringan atau sedang, seperti demam dan batuk. Bagi sebagian orang, terutama orang yang lebih tua dan orang-orang dengan masalah kesehatan, dapat menyebabkan penyakit yang lebih parah, termasuk pneumonia. Sebagian besar pulih.

    Direktur Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk wilayah Mediterania Timur, Ahmed Al-Mandhari, mengatakan banyak pembatasan perjalanan yang diberlakukan oleh berbagai negara menghambat upaya untuk memerangi virus dengan menunda penyebaran pakar kesehatan dan pengiriman pasokan medis yang sangat dibutuhkan.

    Jutaan orang di Timur Tengah berada di bawah jam malam, karantina atau pengurungan total.



    (FJR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id