ISIS Klaim Bertanggung Jawab Atas Pengeboman Jeddah

    Fajar Nugraha - 13 November 2020 15:01 WIB
    ISIS Klaim Bertanggung Jawab Atas Pengeboman Jeddah
    Lokasi ledakan di Jeddah, Arab Saudi saat peringatan Perang Dunia Pertama. Foto: AFP
    Beirut: Kelompok militan Islamic State (ISIS) mengeklaim diri sebagai aktor di balik pengeboman di Jeddah, Arab Saudi. Mereka menyatakan ledakan sebagai bentuk protes atas publikasi kartun Nabi Muhammad di Prancis.

    Serangan Rabu melanda peringatan Perang Dunia I di sebuah pemakaman non-Muslim di kota Laut Merah Jeddah, melukai sedikitnya dua orang.

    Itu terjadi kurang dari sebulan setelah seorang penjaga di konsulat Prancis di Jeddah terluka oleh seorang Saudi yang memegang pisau, di tengah kemarahan Muslim atas kartun satir Nabi Muhammad.
     
    Baca: Ledakan di Jeddah Diarahkan untuk Prancis?.

    Sebuah pernyataan dari kelompok propaganda ISIS, Amaq, mengatakan serangan itu "terutama ditujukan kepada konsul Prancis atas ketidakpedulian negaranya dalam menerbitkan kartun-kartun yang menghina Nabi Allah".

    “Anggota ISIS telah memasang alat peledak di pemakaman di kota Jeddah kemarin (Rabu). Serangan itu dilakukan untuk membela Nabi Muhammad,” ujar pernyataan ISIS, melalui Amaq, seperti dikutip NDTV, Jumat 13 November 2020.

    Presiden Prancis Emmanuel Macron membela hak menerbitkan kartun yang dianggap menyinggung sebagian orang. Tetapi dia juga mencoba meredakan ketegangan atas ucapannya.

    Para diplomat dari Prancis, Yunani, Italia, Inggris dan Amerika Serikat menghadiri upacara peringatan Hari Gencatan Senjata di Jeddah, kata kedutaan mereka dalam sebuah pernyataan setelah pemboman. Mereka mengutuk serangan itu sebagai "pengecut".

    Seorang polisi Yunani yang tinggal di Arab Saudi terluka, kata sumber diplomatik Yunani, dan seorang warga Inggris juga diyakini terluka.

    Sementara seorang polisi Arab Saudi menderita luka ringan, televisi milik negara Al-Ekhbariya menambahkan, mengutip gubernur wilayah Mekah, tempat Jeddah berada.

    Kartun Charlie Hebdo diperlihatkan oleh guru sejarah Prancis Samuel Paty kepada murid-muridnya di kelas tentang kebebasan berbicara, yang menyebabkan dia dipenggal di luar Paris pada 16 Oktober.

    Pembunuhannya mengikuti kampanye online oleh orang tua yang marah atas pilihan materi pelajarannya.

    Memberikan penghormatan kepada guru, Macron membela sekularisme Prancis yang ketat dan tradisi satirnya yang panjang. "Kami tidak akan melepaskan kartun," sumpahnya bulan lalu.

    Dan sebelumnya pada Oktober dia menggambarkan Islam, dalam pidatonya, sebagai "dalam krisis" dan menyerang "separatisme Islam" di beberapa bagian Prancis. Sikap Macron membuat marah banyak umat Islam, memicu protes besar di beberapa negara di mana potret presiden Prancis dibakar, dan kampanye untuk memboikot produk Prancis.

    Tapi Macron sejak itu mencoba meredakan kemarahan Muslim.

    Pekan lalu, Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Yves Le Drian mengunjungi Mesir di mana dia bertemu dengan Imam Al-Azhar, yang dianggap sebagai lembaga keagamaan terkemuka bagi Muslim Sunni, mencoba meredakan kehebohan.

    (FJR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id