Dua ABK WNI Turut Ditahan dari Kapal Tanker Korsel yang Disita Iran

    Renatha Swasty - 05 Januari 2021 06:52 WIB
    Dua ABK WNI Turut Ditahan dari Kapal Tanker Korsel yang Disita Iran
    Kapal Tanker Hankuk Chemi didekati oleh kapal Angkatan Laut Iran. Foto: AFP
    Teheran: Sebanyak dua anak buah kapal (ABK) warga negara Indonesia (WNI) turut ditahan dari kapal tanker Korea Selatan (Korsel) pada 4 Januari 2021 di Iran. Korea Selatan pun mengirim pasukannya ke Selat Hormuz setelah kapal itu disita.

    Baca: Iran Sita Tanker Kimia Milik Korea Selatan.

    Pemerintah Korea Selatan mengatakan telah mengirim pasukan militer ke Selat Hormuz yang strategis setelah Korps Pengawal Revolusi Islam Iran, atau IRGC, menyita sebuah kapal tanker berbendera Korea Selatan itu. Pejabat di Seoul juga menuntut pembebasan segera kapal tersebut, yang menurut pihak berwenang Iran telah ditahan karena dugaan pencemaran laut.

    Kementerian Luar Negeri Korea Selatan mengeluarkan pernyataan terkait kapal tanker kimia MT Hankuk Chemi. Kapal, yang menurut Iran membawa 7.200 ton "bahan kimia berbasis minyak", telah melakukan perjalanan dari Arab Saudi ke Uni Emirates Arab saat IRGC mengambil alih sekitar pukul 10.00 waktu setempat.

    “Gambar resmi dari operasi tersebut menunjukkan beberapa kapal kecil Iran mengerumuni kapal komersial tersebut, yang sekarang berlabuh di dekat pelabuhan Bandar Abbas, Iran,” sebut laporan The Drive, Selasa 5 Januari 2021.

    “Seluruh kru, total berjumlah 20 orang. Mereka termasuk lima warga negara Korea, 11 pelaut dari Myanmar, dua WNI, serta dua Vietnam saat dilaporkan telah ditangkap,” imbuh laporan tersebut.

    IRGC mengatakan bahwa mereka telah menyita kapal, yang memiliki tonase kotor 9.797 ton, setelah menerima permintaan dari Organisasi Pelabuhan dan Maritim negara itu. Mereka bertindak atas surat perintah yang dikeluarkan oleh kantor kejaksaan Provinsi Hormozgan di sepanjang Selat Hormuz.

    Insiden tersebut dikonfirmasi lebih lanjut oleh badan United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO), yang memantau keamanan maritim di wilayah tersebut. "Sebagai konsekuensi dari interaksi ini, kapal melakukan perubahan arah ke utara dan melanjutkan ke perairan teritorial Iran," katanya dalam sebuah pernyataan.

    Operator Hankuk Chemi yang berbasis di Korea Selatan, DM Shipping, membantah kapal itu melanggar protokol lingkungan apa pun.

    Tidak jelas pasukan apa yang sekarang telah dikirim Korea Selatan ke daerah itu dan tindakan apa yang mungkin mereka ambil.

    Pada Januari 2020, pejabat Korea Selatan mengumumkan bahwa mereka akan memperluas unit militer Cheonghae mereka, yang sebelumnya difokuskan pada misi antipembajakan di Teluk Aden bekerja sama dengan Gugus Tugas Gabungan 151 pimpinan Angkatan Laut AS, untuk juga mencakup operasi di dan di sekitar Selat Hormuz. Kapal perusak Angkatan Laut Korea Selatan melakukan penyebaran bergilir untuk mendukung unit Cheonghae, dan membentuk inti dari kekuatan itu, tetapi tidak jelas kapal perang negara mana yang berada di wilayah tersebut sekarang.

    Militer Korea Selatan secara teknis bukan bagian dari Konstruksi Keamanan Maritim Internasional yang dipimpin AS. Gugus tugas itu didirikan pada 2019 khusus untuk berpatroli di dalam dan sekitar Selat Hormuz dan di tempat lain di Timur Tengah serta memantau aktivitas Iran.



    • Halaman :
    • 1
    • 2
    Read All




    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id