Milisi Libya Ancam Hadapi Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan

    Fajar Nugraha - 03 Agustus 2020 17:51 WIB
    Milisi Libya Ancam Hadapi Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan
    Jenderal Khalifa Haftar yang memimpin Libyan National Army (LNA). Foto: AFP
    Tripoli: Jenderal Khalifa Haftar yang memimpin Tentara Nasional Libya atau Libyan National Army (LNA) memperingatkan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan untuk tidak membawa masuk pasukannya. Jika ancaman itu diabaikan, Haftar akan hadapi Erdogan dengan kekuatan bersenjata.

    Haftar bersama LNA terlibat dalam konflik dengan Pemerintah Kesepakatan Nasional atau Government of National Accord (GNA) di Tripoli, dipimpin oleh Fayez Al-Sarraj. GNA adalah pemerintahan Libya yang diakui secara internasional.

    Erdogan telah mengirim tentara bayaran yang didukung Turki dari Suriah untuk memperjuangkan GNA, bersama dengan artileri dan senjata berat yang telah mengubah gelombang menguntungkannya. Dalam pidatonya kepada pasukan untuk menandai Iduladha, Haftar menuduh Presiden Turki "datang ke Libya untuk mencari warisan leluhurnya."

    "Kami memberi tahu dia akan menerjemahkan warisan leluhur Anda dengan peluru,” tegas Haftar, seperti dikutip dari Arab News, Senin, 3 Agustus 2020.

    “Untuk pasukan Turki di Libya tidak ada belas kasihan karena mereka tidak pantas mendapatkan belas kasih,” tegasnya.

    “Rakyat Libya tidak akan pernah menerima diduduki oleh orang Turki, dan tidak akan pernah lagi dijajah,” kata Haftar.

    Samuel Ramani, seorang peneliti di Universitas Oxford di Inggris, mengatakan kepada Arab News bahwa Haftar meningkatkan retorikanya melawan Turki.

    "Dia benar-benar menekankan bahwa perangnya di Libya bukan hanya perjuangan melawan ekstremisme atau milisi teroris yang sejalan dengan GNA. Tetapi perjuangan untuk kedaulatan dan kemerdekaan Libya dari agenda hegemoni Turki,” sebut Ramani.

    Peringatan Haftar kepada Erdogan terjadi setelah pertengkaran verbal antara Menteri Pertahanan Turki Hulusi Akar, dan Anwar Gargash, Menteri Negara Urusan Luar Negeri Uni Emirat Arab (UEA), yang mendukung Haftar.

    “Abu Dhabi melakukan apa yang dilakukannya di Libya, melakukan apa yang dilakukannya di Suriah. Semua itu sedang direkam. Di tempat dan waktu yang tepat semua akan diselesaikan,” ucap Akar.

    "Kita perlu bertanya kepada Abu Dhabi, dari mana permusuhan ini, dari mana niat ini, dari mana kecemburuan ini berasal?,” imbuh Akar.

    Gargash menanggapi dengan peringatan kepada Turki untuk berhenti mencampuri urusan Arab. "Ilusi kolonialis saat ini hanya sejarah. Hubungan antara negara tidak dilakukan dengan ancaman,” pungkas Gargash.

    (FJR)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id