Komite Investigasi Ledakan Beirut Rampungkan Penyelidikan

    Fajar Nugraha - 10 Agustus 2020 16:03 WIB
    Komite Investigasi Ledakan Beirut Rampungkan Penyelidikan
    Kondisi Pelabuhan Beirut, Lebanon pasca ledakan yang terjadi pada 4 Agustus 2020. Foto: AFP
    Beirut: Tenggat waktu penyelidikan yang diberikan selama lima hari dalam kasus ledakan di Beirut, Lebanon, berakhir Senin 10 Agustus hari ini. Komite investigasi dilaporkan sudah merampungkan penyelidikannya.

    “Pada akhir tenggat waktu lima hari penyelidikan yang dipimpin pemerintah dalam ledakan pelabuhan Beirut, komite investigasi yang ditugaskan untuk penyelidikan dilaporkan menyerahkan temuannya kepada Sekretaris Jenderal Dewan Menteri,” laporan suratkabar Al-Joumhouria, seperti dikutip Naharnet, Senin, 10 Agustus 2020.

    “Pihak berwenang akan melihat laporan itu selama pertemuan di Istana Baabda,” sebut laporan Al-Joumhouria.

    Laporan tersebut menetapkan tanggung jawab administratif atas pengeboman pelabuhan yang daya rusaknya sangat besar. Laporan dimulai dari masuknya kapal yang membawa amonium nitrat hingga ledakan terjadi.

    Baca: Empat Anggota Parlemen Lebanon Mundur di Tengah Demo.

    Sementara Hakim Ghasson Khoury saat ini dikabarkan tengah mendengar kesaksian dari Direktur Jenderal Keamanan Negara, Mayor Jenderal Tony Saliba. Sidang kesaksian itu mendengarkan detail kejadian ledakan yang terjadi pada 4 Agustus itu.

    Korban tewas sementara dari ledakan besar dilaporkan mencapai 158 hari Minggu. Ledakan juga melukai sekitar 6.000 dan menyebabkan sekitar 300.000 warga kehilangan tempat tinggal.

    Ledakan yang terjadi di Beirut membuahkan kemarahan dari warga terhadap pemerintah. Mereka menilai ada kelalaian penyimpanan dari pemerintah.

    Baca: Demonstran Serbu Sejumlah Gedung Kementerian Lebanon.

    Demonstran menyerbu sejumlah gedung kementerian di Beirut. Polisi menembakkan gas air mata ke arah para pengunjuk rasa. Suara tembakan senjata api juga terdengar dari lapangan Martyrs' Square di ibu kota.
     
    Banyak warga Lebanon marah kepada pemerintah yang dinilai gagal mencegah terjadinya ledakan di sebuah gudang di area pelabuhan Beirut. Ledakan tersebut berasal dari 2.750 ton amonium nitrat yang sudah tersimpan di gudang selama enam tahun.

    Meski Pemerintah Lebanon berjanji mencari pihak yang bertanggung jawab atas ledakan, para pedemo tetap terbakar amarah. Sebelum terjadinya ledakan, Lebanon sudah mengalami krisis ekonomi yang diperparah pandemi virus korona (covid-19).

    (FJR)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id