Dialog Perdamaian Afghanistan-Taliban Dimulai Akhir Pekan

    Marcheilla Ariesta - 11 September 2020 19:41 WIB
    Dialog Perdamaian Afghanistan-Taliban Dimulai Akhir Pekan
    Para militan Taliban. Foto: AFP.
    Kabul: Pemerintah Afghanistan dan Taliban pada akhir pekan ini akan memulai dialog untuk mengakhiri perang selama hampir dua dekade. Meski demikian, hanya sedikit yang mengharapkan kesepakatan damai ini dapat terwujud dalam waktu dekat.

    Kedua belah pihak akan bertemu di ibu kota Qatar, Doha pada Sabtu, 12 September 2020. Pertemuan ini enam bulan lebih lambat dari yang direncanakan karena adanya perselisihan sengit mengenai pertukaran tahanan yang kontroversial.

    Pembicaraan yang didukung AS menandai tonggak utama dalam konflik 19 tahun Afghanistan. Ini masih jauh dari jaminan karena para negosiator bergulat dengan tujuan yang sangat berbeda.

    Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Mike Pompeo yang menghadiri upacara pembukaan mengatakan mereka akan mewakili kesempatan yang benar-benar bersejarah.

    "Kedua belah pihak harus menyempurnakan bagaimana memajukan negara mereka untuk mengurangi kekerasan dan menyampaikan apa yang dituntut rakyat Afghanistan, Afghanistan yang berdamai dengan pemerintah yang mencerminkan negara yang tidak berperang," kata Pompeo kepada awak media saat ia terbang ke Qatar, dilansir dari AFP, Jumat, 11 September 2020.

    Presiden AS Donald Trump berusaha keras untuk membawa pulang pasukan dan mengakhiri perang terpanjang di Amerika, yang dimulai hampir 20 tahun lalu ketika Washington menyerbu Afghanistan dan menggulingkan Taliban setelah serangan 11 September.

    Seorang pengamat Vanda Felbab-Brown mengatakan negosiasi bisa berlangsung bertahun-tahun. "Akan banyak berhenti (dialognya), mungkin akan berbulan-bulan," tuturnya.

    Kesepakatan apapun akan bergantung pada kesediaan kedua belah pihak untuk menyesuaikan visi mereka sehingga bisa berbagi kekuasaan dalam negara.

    Taliban, yang menolak mengakui pemerintahan Presiden Ashraf Ghani, akan mendorong untuk membentuk kembali Afghanistan menjadi sebuah 'emirat' Islam. Sementara itu, pemerintahan Ghani akan berusaha untuk mempertahankan status quo yang didukung Barat dari sebuah republik konstitusional yang mengabadikan banyak hak, termasuk kebebasan bagi perempuan.

    (FJR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id