PBB Ingatkan Potensi Bencana dari Mencairnya Gletser Afrika

    Medcom - 19 Oktober 2021 16:38 WIB
    PBB Ingatkan Potensi Bencana dari Mencairnya Gletser Afrika
    Lapisan es di Gunung Kilimanjaro terlihat dari sebuah wilayah di Kenya, 4 Mei 2008. (Mladen ANTONOV / AFP)



    Johannesburg: Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperingatkan bahwa gletser di wilayah timur Afrika diperkirakan mencair dalam kurun waktu dua dekade. Jika itu terjadi, maka 118 juta orang akan menghadapi bencana kekeringan, banjir, atau panas ekstrem. 

    Selain itu, dampak lainnya adalah berkurangnya tiga persen Produk Domestik Bruto (PDB) Afrika pada pertengahan abad.

    "Pada tahun 2030, diperkirakan sekitar 118 juta orang yang sangat miskin (hidup dengan kurang dari 1,90 dolar per hari) akan terkena kekeringan, banjir, dan panas yang ekstrem, jika tindakan yang memadai tidak dilakukan," kata Komisaris Pertanian Uni Afrika, Josefa Sacko.

    Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) bersama sejumlah badan Uni Afrika merilis laporan terbaru terkait keadaan iklim Afrika. Terdapat gambaran mengerikan tentang kemampuan benua tersebut untuk beradaptasi dengan bencana cuaca yang semakin sering terjadi.

    Menurut satu kumpulan data, 2020 tercatat sebagai tahun terpanas ketiga di Afrika, dengan suhu 0,86 derajat Celcius di atas rata-rata dalam tiga dekade terakhir hingga 2010. Meski lajunya relatif rendah, namun dampaknya dapat tetap menghancurkan.

    "Penyusutan cepat dari gletser terakhir yang tersisa di Afrika timur, yang diperkirakan akan mencair seluruhnya dalam waktu dekat, menandakan ancaman perubahan permanen pada sistem Bumi," ujar Sekretaris Jenderal WMO, Petteri Taalas.

    Pada tingkat saat ini, diperkirakan tiga gletser Afrika, yaitu Gunung Kilimanjaro di Tanzania, Pegunungan di Kenya, dan Gunung Rwenzoris di antara Uganda dan Kongo, akan menghilang pada 2040-an.

    Baca:  Sekjen PBB Peringatkan Ancaman 'Darurat Iklim'

    Benua Afrika menyumbang kurang dari 4 persen emisi gas rumah kaca, dan telah lama diperkirakan akan sangat terpengaruh oleh perubahan iklim. Lahan pertanian rawan kekeringan, banyak kota besar yang berada di pesisir pantai, dan kemiskinan yang meluas membuat masyarakat di benua tersebut lebih sulit beradaptasi.

    Terlepas dari kekeringan yang memburuk di Afrika, terdapat banjir besar di Afrika Timur dan Barat pada 2020. Di samping itu, laporan terkait mencatat, serangan belalang berskala masif di Afrika juga kian mendatangkan malapetaka.

    Diperkirakan Afrika sub-Sahara perlu menghabiskan 30 hingga 50 miliar dolar atau tiga hingga tiga persen dari PDB setiap tahunnya guna beradaptasi dan menghindari konsekuensi yang lebih buruk dari dampak perubahan iklim. (Nadia Ayu Soraya)(WIL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id