Warga Palestina Bersatu Menentang Pencaplokan Israel

    Fajar Nugraha - 23 Juni 2020 16:07 WIB
    Warga Palestina Bersatu Menentang Pencaplokan Israel
    Unjuk rasa warga Palestina menentang rencana pencaplokan oleh Israel. Foto: AFP
    Tepi Barat: Ribuan warga Palestina pada Senin berdemonstrasi menentang rencana Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk Timur Tengah. Rencana itu mencakup aneksasi Israel atas bagian-bagian Tepi Barat.

    Protes di Jericho, di selatan Lembah Yordan, muncul sebagai tanggapan atas seruan faksi Fatah yang dipimpin Presiden Palestina Mahmud Abbas.

    Itu adalah unjuk rasa terbesar sejak Trump pada Januari meluncurkan rencananya yang kontroversial terkait perdamaian Israel-Palestina. Rencana itu memberi lampu hijau kepada Israel untuk mencaplok permukiman Tepi Barat dan Lembah Yordan.

    Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu diperkirakan akan mengumumkan secepatnya 1 Juli strateginya untuk mengimplementasikan rencana Trump. Palestina telah menolak rencana itu dan telah berusaha menggalang dukungan internasional untuk menentangnya.

    "Jika Israel menganeksasi tidak akan ada tanah tersisa untuk negara Palestina," kata pengunjuk rasa Mohammed Ishloon, 47, yang datang ke demonstrasi dari kamp pengungsi Aqabat Jaber di luar Jericho.

    "Kami tidak akan membiarkan Israel mencuri tanah kami," tambah demonstran Kamal Said, seperti dikutip AFP, Selasa, 23 Juni 2020.

    Tidak untuk dijual


    Rencana pencaplokan Israel membayangkan pembentukan negara Palestina. Tetapi pembentukan itu di wilayah yang direduksi dan tanpa memenuhi permintaan utama Palestina untuk memiliki ibu kotanya di Yerusalem timur.

    Para pengunjuk rasa di Jericho mengangkat slogan-slogan yang mengatakan ‘Palestina tidak untuk dijual’ dan ‘Tidak ada negara Palestina tanpa Lembah Jordan’.

    Utusan khusus Timur Tengah PBB, Nickolay Mladenov, bergabung dengan protes dan mengkritik rencana aneksasi yang didukung AS, dengan mengatakan itu dapat ‘membunuh’ perdamaian dan kenegaraan Palestina.

    "PBB percaya pencaplokan itu bertentangan dengan hukum internasional," kata Mladenov.

    "Jika itu terjadi, itu mungkin membunuh gagasan bahwa perdamaian dan kenegaraan bagi rakyat Palestina dapat dicapai melalui negosiasi," imbuh Mladenov.

    Mladenov mendesak Palestina untuk menentang rencana Israel dengan cara damai.

    "Orang-orang Palestina tidak putus asa, jangan menyimpang dari jalan tanpa kekerasan.  Anda tidak menyewa rumah, ini rumah Anda. Jangan lupa tujuan negara Palestina yang bebas di sebelah Israel," tegas Mladenov.

    Tepi Barat, yang diduduki Israel pada tahun 1967, adalah rumah bagi 450.000 pemukim Israel dan 2,7 juta warga Palestina. Israel mengendalikan semua akses ke wilayah tempat pemerintahan Abbas berpusat.

    Yordania, yang memiliki perjanjian damai dengan Israel, telah memperingatkan akan meninjau kembali hubungannya dengan negara Yahudi itu, jika tetap melakukan aneksasi. Negara-negara Arab lainnya telah menyuarakan oposisi terhadap rencana tersebut.

    Negara-negara Uni Eropa juga telah menyuarakan keprihatinan atas langkah sepihak Israel untuk mencaplok wilayah pendudukan Palestina.

    “Pada Senin, para diplomat Tiongkok, Rusia, Uni Eropa dan Jepang juga mengambil bagian dalam protes tersebut,” kata wartawan AFP.

    Pejabat senior Palestina Saeb Erekat mengatakan kepada AFP bahwa ‘koalisi internasional besar’ termasuk negara-negara Arab, Afrika dan Eropa mendukung Palestina melawan rencana aneksasi Israel.



    (FJR)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id