Setelah Perdana Menteri, Giliran Menhan Tunisia yang Dipecat Presiden

    Willy Haryono - 27 Juli 2021 09:03 WIB
    Setelah Perdana Menteri, Giliran Menhan Tunisia yang Dipecat Presiden
    Menhan Tunisia Ibrahim Bartaji saat mengucap sumpah jabatan di Carthage, 2 September 2020. (FETHI BELAID / AFP)



    Tunis: Presiden Tunisia Kais Saied memecat Menteri Pertahanan Ibrahim Bartaji, satu hari usai dirinya melakukan hal serupa terhadap Perdana Menteri Hichem Mechichi. Pemecatan Bartaji semakin membuat Tunisia jatuh ke jurang krisis konstitusional yang diperburuk situasi pandemi Covid-19.

    Bentrokan antara demonstran pendukung Saied, kubu oposisi dan juga petugas keamanan meletus di jalan raya ibu kota usai Saied memecat PM Mechichi dan membekukan parlemen selama 30 hari.

     



    Baca:  Presiden Tunisia Pecat Perdana Menteri dan Bekukan Parlemen

    Ennahdha, partai politik terbesar di Tunisia, memandang langkah Saied sebagai sebuah "kudeta" terhadap konstitusi negara.

    Hari Minggu kemarin, Saied menegaskan bahwa keputusannya diambil demi "menyelamatkan negara dan masyarakat Tunisia." Pemecatan PM dan pembekuan parlemen dilakukan usai gelombang protes meletus di seantero negeri dalam memprotes praktik korupsi pejabat, tingginya pengangguran, dan penanganan pandemi.

    Saied, yang menguasai angkatan bersenjata Tunisia sesuai aturan konstitusi, mengingatkan para rivalnya untuk tidak menggunakan senjata api. Ia mengancam akan mengerahkan kekuatan militer jika ada yang berani menembakkan "satu peluru" di jalanan.

    "Pasukan kami akan membalasnya dengan hujan peluru," tegas Saied.

    Pada Senin petang, kantor kepresidenan Tunisia mengumumkan pemecatan Menhan Bartaji dan pelaksana tugas Menteri Hukum Hasna Ben Slimane, yang juga merangkap sebagai juru bicara pemerintah.

    Langkah dramatis Saied -- dilakukan satu dekade usai terjadinya revolusi Tunisia di tahun 2011 -- dilakukan meski konstitusi saat ini melindungi demokrasi parlemen.

    "Ini merupakan kudeat terhadap revolusi dan konstitusi," tegas Ennahdha. Partai terdepan dalam koalisi pemerintah itu menegaskan bahwa para pendukungnya akan berjuang mati-matian dalam "membela revolusi" Tunisia.

    Krisis terbaru di Tunisia merupakan buntut dari perseteruan antara Saied, Mechichi, dan ketua Ennahdha, Ghannouchi. Perseteruan elite ini membuat respons negara terhadap Covid-19 cenderung terabaikan, sehingga angka kematian per kapita akibat virus tersebut menjadi salah satu yang tertinggi di dunia.

    Sejauh ini, angka kematian akibat Covid-19 di Tunisia -- negara berpopulasi 12 juta -- telah melampaui 18 ribu.

    (WIL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id