comscore

Pengadilan Yordania Tolak Upaya Pangeran Hamzah Bersaksi Terkait Kisruh Kerajaan

Fajar Nugraha - 02 Juli 2021 07:16 WIB
Pengadilan Yordania Tolak Upaya Pangeran Hamzah Bersaksi Terkait Kisruh Kerajaan
Pangeran Yordania Hamzah bin Hussein dikabarkan berharap gulingkan Raja Abdullah II dengan dukungan Arab Saudi. Foto: AFP
Amman: Pengadilan militer Yordania pada Kamis 1 Juni 2021 menolak permintaan pembelaan agar Pangeran Hamzah dari kerajaan. Bersama saksi lainnya, Pangeran Hamzah meminta bersaksi dalam kasus tuduhan berupaya mengacaukan monarki.

Pangeran Hamzah, mantan pewaris takhta yang terasing di tengah kasus, dituduh berhubungan dengan pihak yang tidak puas. Dia bahkan dianggap bermaksud menggulingkan Raja Yordania Abdullah II.
Baca: Raja Yordania Abdullah Tegaskan Krisis Istana Sudah Berakhir.

?Dia menghindari proses hukum apa pun pada April setelah berjanji setia kepada raja, meredakan krisis yang menyebabkan dia menjadi tahanan rumah.

Tetapi tuduhan tetap ada terhadap mantan orang kepercayaan Kerajaan Yordania, Bassem Awadallah, yang dianggap melakukan agitasi untuk melemahkan sistem politik Yordania. Mereka dianggap melakukan tindakan yang mengancam keamanan publik dan menabur penghasutan.

Pakar hukum mempertanyakan legalitas persidangan ketika pria yang menjadi pusat kasus, Pangeran Hamzah, tidak hadir. Sementara pihak berwenang mengatakan proses persidangan itu adil.

Pengacara pembela Mohammad Afif mengatakan, keputusan pengadilan militer untuk tidak mengambil kesaksian dari daftar saksi pembela potensial -,juga termasuk perdana menteri dan pangeran lainnya,- menyarankan putusan itu bisa cepat diraih.

"Tanpa bukti pembelaan, mungkin ada vonis dalam waktu seminggu," kata pengacara, seperti dikutip dari Channel News Asia, Jumat 2 Juli 2021.

Dia tidak merinci alasan apa pun yang diberikan oleh pengadilan untuk menolak permintaan pembelaan. Pengadilan militer telah mengadakan persidangan secara rahasia sejak persidangan dimulai pekan lalu setelah pihak berwenang mengatakan dengar pendapat publik akan membahayakan keamanan nasional.

Kasus penuntutan bergantung pada pesan suara yang disadap oleh pasukan intelijen yang diduga menunjukkan bagaimana Hamzah menunggu saat yang tepat untuk bertindak. Dia mendapatkan saran Awadallah tentang tweet yang tepat untuk mengeksploitasi gelombang protes jalanan atas meningkatnya kesulitan.

Baca: Terkuak, Pangeran Yordania Minta Bantuan Arab Saudi untuk Kudeta.

Pengacara mengatakan tidak ada bukti plot yang mengandalkan kaki tangan di dalam tentara dan pasukan keamanan. Pihak berwenang mengatakan mereka menghentikan potensi kudeta.

Kasus ini mengejutkan Yordania karena tampaknya mengungkap keretakan dalam keluarga Kerajaan Yordania yang berkuasa yang telah menjadi mercusuar stabilitas di wilayah yang bergejolak dalam beberapa tahun terakhir.

Para pejabat mengatakan bukti penuntutan juga menunjukkan bahwa Hamzah ingin Awadallah menggunakan hubungan dekatnya dengan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman untuk mencari dukungan bagi upaya Hamzah menjadi raja.

Menurut lembar dakwaan, Awadallah, yang menentang pendirian konservatif memiliki hubungan dekat dengan pejabat senior Amerika Serikat (AS), berjanji untuk melobi atas nama Hamzah di AS dan Arab Saudi.

(FJR)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id