Kematian Wakil Komisaris Polisi Membongkar Bobroknya Penjara Turki

    Marcheilla Ariesta - 15 Oktober 2020 19:15 WIB
    Kematian Wakil Komisaris Polisi Membongkar Bobroknya Penjara Turki
    Wakil Komisaris Polisi Turki, Mustafa Kabakcioglu tewas di penjara. Foto: SCF.
    Istanbul: Lembaga advokasi Stockholm Center for Freedom (SCF) merilis sejumlah foto mantan Wakil Komisaris Polisi Turki, Mustafa Kabakcioglu, yang meninggal dalam penjara pada 29 Agustus lalu. Foto-foto yang dirilis menunjukkan kondisi memprihatinkan penjara di sana.

    Media Turki Bold Medya, Kamis, 15 Oktober 2020, melaporkan, dalam foto yang dirilis, tampak tubuh tak bernyawa Kabakcioglu terlihat di kursi dalam posisi duduk, kepalanya terkulai ke belakang dan kukunya membiru. 

    Kondisi sel penjaranya juga memperlihatkan tempat yang lembab dan kotor. Terlihat ada noda kotoran di baju yang ia kenakan.

    Pria 44 tahun itu sepertinya makan di atas tempat sampah. Pasalnya, salah satu foto menggambarkan makanan yang tidak tersentuh di atas tempat sampah tersebut.

    Kabakcioglu sebelumnya dilaporkan tengah berjuang dengan berbagai masalah kesehatan selama di penjara. Dia menderita penyakit asma dan diabetes saat menjalani hukuman di Penjara Tertutup, Gumushane E, dan kehilangan berat badan hingga  40 kilogram karena kondisi fasilitas yang buruk.

    Ia ditahan karena diduga terkait dengan Gerakan Gulen. Kabakcioglu diketahui menderita batuk pada 20 Agustus dan dimasukkan ke dalam sel isolasi karena dicurigai mengidap virus korona (covid-19). Dia berada sendiri selama sembilan hari berikutnya, dan diklaim meninggal di selnya setelah batuk parah yang berlanjut hingga pagi.

    Namun, hasil tes covid-19 post-mortem yang dilakukan menunjukkan hasil negatif, yang menimbulkan keraguan tentang kondisi kematiannya. Keluarganya meragukan dia meninggal di kursi tersebut, apalagi Kabakcioglu bisa menekan tombol darurat meminta bantuan.

    Foto-foto yang lain juga menunjukkan pejabat yang sebelumnya sangat disegani ini hanya tidur di sebuah kasur 'butut' di sebelah tangga. Petugas penjara sebelumnya menyatakan Kabakcioglu jatuh dari tangga setelah dia kehilangan kesadaran, sehingga lebih nyaman tidur di situ.

    Mustafa Kabakcioglu adalah petugas kepolisian yang dihormati di negaranya dan menerima banyak penghargaan. Dia ditangkap pada Juli 2016 dan diberhentikan dari pekerjaannya pada September di tahun yang sama, karena diduga menjadi anggota gerakan Gulen. Dia dijatuhi hukuman tujuh tahun, enam bulan penjara.

    Sumbangan yang diberikannya untuk organisasi amal Gulen, kesaksian saksi yang mengklaim dia pergi ke pertemuan keagamaan tersebut dan aplikasi ByLock yang dipasang di teleponnya disajikan sebagai bukti di pengadilan. ByLock adalah aplikasi perpesanan terenkripsi yang digunakan di smartphone dan tersedia di App Store Apple dan Google Play. 

    Namun, otoritas Turki mengklaim bahwa ByLock adalah alat komunikasi yang secara eksklusif digunakan oleh anggota gerakan Gulen untuk memastikan privasi percakapan mereka.

    Petisi yang ditulis Kabakcioglu kepada dokter penjara dua hari sebelum kematiannya juga ditemukan. Dalam petisi, dia mengatakan meskipun dia minum obat yang diresepkan, dia tidak merasa lebih baik. 

    Dia menambahkan, mengalami pembengkakan di mulut dan kakinya serta kesulitan berbicara dan berjalan.

    Keluarganya meyakini kematiannya bukan akibat covid-19 lantas mengadukan hal itu ke Kantor Kepala Kejaksaan Umum Gumushane. Mereka menuntut agar pihak yang bertanggung jawab atas kematian Kabakcioglu agar ditemukan dan dihukum.

    Bold Medya melaporkan ada peningkatan jumlah kematian yang mencurigakan di Turki, kebanyakan terjadi di penjara dan pusat penahanan, di mana penyiksaan dan perlakuan buruk dilakukan secara rutin. 

    Dalam sebagian besar kasus, pihak berwenang mengklasifikasikan kematian ini sebagai bunuh diri tanpa investigasi independen yang efektif. Kematian yang mencurigakan juga telah terjadi di luar tembok penjara di tengah tekanan psikologis dan ancaman pemenjaraan dan penyiksaan, kadang-kadang setelah pembebasan tersangka atau sebelum penahanan mereka.

    Jumlah sebenarnya kematian selama keadaan darurat yang diumumkan di Turki pada Juli 2016 masih belum diketahui. Menurut daftar SCF's Suspicious Deaths And Suicides In Turkey , ada hampir 200 kematian yang mencurigakan terjadi di penjara dan pusat penahanan.

    (FJR)


    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id