Krisis Politik Tunisia, Partai Ennahda Serukan Dialog dengan Presiden

    Marcheilla Ariesta - 28 Juli 2021 16:08 WIB
    Krisis Politik Tunisia, Partai Ennahda Serukan Dialog dengan Presiden
    Jajaran anggota partai Ennahda berada dalam sebuah sesi parlemen di Tunis, Tunisia, 26 Januari 2021. (FETHI BELAID / AFP)



    Tunis: Partai Islam terbesar di Tunisia, Ennahda, mulai bergerak untuk meredakan krisis politik di negara itu. Mereka menyerukan dialog dan mendesak para pendukungnya tidak melakukan protes terhadap Presiden Kais Saied.

    Tunisia menghadapi krisis politik terburuk dalam satu dekade demokrasi setelah Saied, yang didukung militer, memecat perdana menteri dan membekukan parlemen pada Minggu kemarin.

     



    Langkah Presiden Saied memicu kekhawatiran di Tunisia. Padahal, sebelumnya negara ini dipuji karena berhasil bertransisi dari otokrasi sejak pemberontakan Arab Spring pada 2011.

    Dilansir dari Times Live, Rabu, 28 Juli 2021, kelompok masyarakat sipil yang berpengaruh memperingatkan Saied untuk tidak memperpanjang tindakannya tersebut lebih dari sebulan. Mereka memintanya untuk menyusun jalan untuk keluar dari krisis.

    Ennahda yang merupakan partai terbesar di parlemen dan tiga partai besar lainnya mengecam gerakan Saied sebagai kudeta. Setelah pendukung mereka bentrok dengan pendukung Saied, Ennahda mendesak dialog dan upaya untuk menghindari perselisihan sipil.

    Baca:  Turki Kecam Keras 'Kudeta' yang Dilakukan Presiden Tunisia

    "Gerakan kami menyerukan semua warga Tunisia untuk meningkatkan solidaritas sinergi dan persatuan untuk menghadapi semua seruan hasutan dan perselisihan sipil," seru mereka.

    Saat ini, tidak ada tanda-tanda ketegangan di ibu kota tempat para pendukung Saied dan penentang gerakannya bentrok Senin lalu. Jalan-jalan kini tenang tanpa protes signifikan.

    Banyak warga Tunisia mendukung langkah Saied. Mereka mengatakan lelah dengan kelumpuhan politik dan ekonomi yang hampir mati.

    Warga turun ke jalan menunjukkan dukungannya untuk keputusan Saied.

    "Kami sudah diam selama 10 tahun, kami hidup dalam kesusahan selama itu. Orang-orang menderita dan tidak tahu bagaimana harus menjalani hidup mereka," kata Halma Talbi, salah seorang warga Tunis yang mendukung keputusan Saied.

    (WIL)

    Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

    Komentar

    LOADING
    Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

    Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

    1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
    2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
    3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
    4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

    Anda Selesai.

    Powered by Medcom.id