comscore

Pesawat Tempur Inggris Tembak Jatuh Drone di Dekat Pangkalan AS di Suriah

Medcom - 17 Desember 2021 12:05 WIB
Pesawat Tempur Inggris Tembak Jatuh Drone di Dekat Pangkalan AS di Suriah
Sebuah jet tempur Inggris saat mendarat di HMS Queen Elizabeth. Foto: AFP
London: Kementerian Pertahanan Inggris mengatakan pada Selasa malam, 14 Desember 2021, jet tempur Inggris menembak jatuh sebuah pesawat tak berawak atau drone yang mendekati pangkalan al-Tanf di Suriah.

Dilansir dari Al Monitor, Jumat, 17 Desember 2021, insiden tersebut menjadi yang terbaru dari serangkaian serangan tusukan jarum. Serangan itu diyakini diluncurkan oleh milisi yang didukung Iran di Suriah dan Irak terhadap Amerika Serikat (AS), serta pasukan koalisi internasional setelah perang melawan Negara Islam (ISIS).
Komando Pusat AS dan Pentagon mengonfirmasi insiden tersebut pada Kamis. Sekretaris Pers AS, John Kirby mengatakan, dua pesawat tak berawak terdeteksi memasuki zona penyangga 55 kilometer di sekitar pos terdepan al-Tanf. 

Pangkalan tersebut menampung pasukan operasi khusus AS dan pejuang milisi Suriah di perbatasan selatan terpencil Suriah dengan Irak dan Yordania.

Pemerintah Inggris menyatakan, Angkatan Udara Kerajaan Inggris (RAF) dikerahkan untuk menyelidiki dan berpatroli rutin di daerah itu.

“Ketika salah satu drone ini menyusup lebih dalam ke zona dekonflik, itu dinilai menunjukkan niat bermusuhan,” kata Kirby kepada wartawan pada Jumat.

“Itu ditembak jatuh. Yang kedua tidak terlibat, dan kemungkinan meninggalkan daerah itu,” ujar Kirby.

Juru bicara berusia 58 tahun tersebut mengatakan, tidak terdapat laporan kerusakan atau korban di garnisun al-Tanf pada Kamis pagi.

Penembakan itu diketahui mengikuti rentetan drone peledak sebelumnya, yang menghantam al-Tanf pada Oktober. Tempat tidur dan fasilitas personel lainnya di pangkalan sisi AS dilaporkan  rusak dalam serangan tersebut.

Sementara itu, pasukan AS direlokasi sebelum pengeboman, yang telah diperingatkan oleh pejabat pertahanan sebelumnya.

Presiden AS, Joe Biden diketahui telah dua kali mengizinkan serangan udara AS terhadap milisi yang didukung Iran. Langkah tersebut sebagai pembalasan atas serangan drone dan roket terhadap posisi koalisi.

Serangan semacam itu sebagian besar mereda di Irak dalam beberapa bulan terakhir, sejak Biden dan Perdana Menteri Iran, Mustafa al-Kadhimi mengumumkan AS tidak akan memiliki pasukan tempur di Irak pada akhir tahun ini. Namun, serangan pesawat tak berawak di pangkalan koalisi di Suriah kian berlanjut.

Pejabat Tinggi Gedung Putih AS, Brett McGurk yang mengawasi kebijakan Timur Tengah, menyiratkan selama forum keamanan di Bahrain bulan lalu, AS juga membalas serangan Oktober di al-Tanf.

“Masalah ini tidak selalu Anda bicarakan di tempat terbuka,” tutur McGurk. “Tidak setiap tanggapan akan ada di CNN ketika ada sesuatu yang meledak.”

Milisi yang didukung oleh Korps Pengawal Revolusi Islam Iran (IRGC), seperti Kataib Sayyid al-Shuhada telah mengisyaratkan niat mereka untuk memulai kembali permusuhan terhadap pasukan AS, jika 2.500 tentara AS yang tersisa di Irak gagal pergi pada 31 Desember.

Pejabat pertahanan AS diketahui menanggapi ancaman tersebut dengan serius, namun mengatakan pasukan tidak akan berangkat dalam waktu dekat dari Irak dan Suriah. Mereka terus menyarankan pasukan lokal untuk melacak anggota ISIS yang tersisa. (Nadia Ayu Soraya)

(FJR)

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?

 

 

 

Komentar

LOADING
Cara untuk mendapatkan Berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah berikut ini untuk mendapatkan notifikasi

  1. Akses Pengaturan/Setting Browser Anda
  2. Akses Notifications pada Pengaturan/Setting Browser Anda
  3. Cari https://m.medcom.id pada List Sites Notifications
  4. Klik Allow pada List Notifications tersebut

Anda Selesai.

Powered by Medcom.id